Jakarta, MI - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai impor Indonesia pada Juni 2026 mencapai US$ 25,91 miliar. Angka tersebut melonjak 34,27% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, didorong kenaikan impor minyak dan gas (migas) yang menembus 100%.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan lonjakan impor terbesar berasal dari sektor migas. Nilai impor migas naik 105,15% menjadi US$ 4,56 miliar, sedangkan impor nonmigas tumbuh 25,05% menjadi US$ 21,35 miliar.
"Pada Juni tahun 2026 total nilai impor mencapai US$ 25,91 miliar atau meningkat sebesar 34,27% dibandingkan dengan Juni tahun 2025," kata Ateng dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta Pusat, Senin (3/8/2026).
Menurut Ateng, kenaikan impor migas tidak hanya terjadi dari sisi nilai, tetapi juga volume. Peningkatan tersebut turut dipengaruhi oleh kenaikan harga komoditas migas di pasar.
Dari sisi negara asal, impor migas Indonesia masih didominasi Singapura dengan porsi 28,36%. Posisi berikutnya ditempati Malaysia sebesar 19,72% dan Amerika Serikat sebesar 8,55%.
Secara kumulatif, nilai impor Indonesia sepanjang Januari-Juni 2026 mencapai US$ 137,24 miliar atau naik 18,69% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Rinciannya, impor migas tercatat sebesar US$ 22 miliar atau meningkat 38,71%, sedangkan impor nonmigas mencapai US$ 115,23 miliar atau tumbuh 15,5%.
Untuk komoditas migas, impor minyak mentah selama semester I-2026 mencapai US$ 16,16 miliar. Sementara impor hasil minyak tercatat sebesar US$ 5,85 miliar.
Impor Minyak Mentah Fluktuatif
BPS mencatat volume impor minyak mentah sepanjang Januari hingga Juni 2026 bergerak naik turun. Pada Januari, volumenya mencapai 2,52 juta ton, kemudian turun menjadi 610 ribu ton pada Februari.
Memasuki Maret, volume impor kembali naik menjadi 1,56 juta ton dan meningkat tipis menjadi 1,60 juta ton pada April. Sementara pada Mei volumenya turun menjadi 710 ribu ton.
Ateng menyebut negara pemasok utama minyak mentah Indonesia selama Januari-Juni 2026 berasal dari Nigeria dengan pangsa 24,91%, disusul Angola sebesar 15,41% dan Arab Saudi 13,62%.
Neraca Perdagangan Kembali Defisit
Di sisi lain, Indonesia kembali mencatat defisit neraca perdagangan pada Juni 2026 sebesar US$ 450 juta. Defisit terjadi karena nilai impor mencapai US$ 25,91 miliar, lebih tinggi dibandingkan ekspor yang sebesar US$ 25,46 miliar.
Menurut Ateng, penyebab utama defisit berasal dari perdagangan migas yang mengalami defisit US$ 3,49 miliar. Komoditas penyumbang terbesar defisit tersebut adalah hasil minyak dan minyak mentah.
Meski demikian, neraca perdagangan nonmigas masih mencatat surplus sebesar US$ 3,04 miliar. Surplus tersebut ditopang ekspor bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan atau nabati, serta besi dan baja.
Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari-Juni 2026 masih mencatat surplus US$ 3,58 miliar. Surplus itu ditopang neraca nonmigas yang surplus US$ 19,35 miliar, meski neraca migas masih mengalami defisit sebesar US$ 15,77 miliar.
