BREAKINGNEWS

Amin Ak: Pelemahan Rupiah Bisa Jadi Peluang, Perkuat Pariwisata, Ekspor, dan Hilirisasi

Amin Ak: Pelemahan Rupiah Bisa Jadi Peluang, Perkuat Pariwisata, Ekspor, dan Hilirisasi
Amin Ak (Dok. MI)

Jakarta, MI - Pelemahan nilai tukar rupiah dinilai tidak selalu membawa dampak negatif bagi perekonomian nasional. Di balik tekanan terhadap mata uang domestik, terdapat peluang yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat sektor riil, meningkatkan devisa negara, dan mempercepat pertumbuhan ekonomi apabila didukung kebijakan yang tepat.

Anggota Komisi XI DPR RI, Amin Ak, mengatakan Indonesia dapat belajar dari pengalaman sejumlah negara yang mampu mengubah depresiasi mata uang menjadi momentum memperkuat daya saing ekonomi. Menurutnya, fokus pemerintah seharusnya tidak hanya menjaga stabilitas nilai tukar, tetapi juga memastikan pelemahan rupiah memberi manfaat bagi sektor-sektor produktif.

"Fokus kita bukan meratapi rupiah yang melemah, melainkan membangun ekonomi yang semakin kuat. Ketika rupiah tertekan oleh dinamika global, kita harus mampu mengubah tantangan tersebut menjadi peluang untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Amin, Rabu (5/8/2026).

Wakil Ketua Fraksi PKS DPR RI ini  menjelaskan, salah satu sektor yang paling berpeluang memperoleh keuntungan dari pelemahan rupiah adalah pariwisata. Dengan nilai tukar yang lebih rendah, biaya perjalanan dan berwisata di Indonesia menjadi lebih kompetitif bagi wisatawan mancanegara karena harga hotel, kuliner, transportasi, hingga berbagai layanan wisata menjadi relatif lebih murah jika dikonversi ke mata uang asing.

Menurutnya, sektor pariwisata merupakan salah satu penyumbang devisa yang sangat strategis karena menghadirkan "ekspor" langsung ke dalam negeri.

"Pariwisata sejatinya adalah ekspor yang datang ke Indonesia. Wisatawan membawa devisa tanpa kita perlu mengirimkan barang ke luar negeri. Karena itu, sektor ini harus didorong menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang lebih agresif," katanya.

Amin juga mendorong pemerintah mempercepat pengembangan destinasi wisata prioritas di luar Bali. Kawasan seperti Labuan Bajo, Raja Ampat, Danau Toba, Borobudur, Mandalika, hingga Wakatobi dinilai memiliki potensi besar untuk menarik lebih banyak wisatawan asing apabila didukung konektivitas yang memadai, kebersihan lingkungan, keamanan, kualitas layanan, serta promosi internasional yang lebih masif.

Selain pariwisata, ia menilai momentum pelemahan rupiah perlu dimanfaatkan untuk memperkuat ekspor nasional. Berbagai komoditas unggulan Indonesia seperti kelapa sawit, hasil perikanan, kopi, kakao, furnitur, tekstil, alas kaki, hingga produk industri kreatif dinilai memiliki peluang lebih besar menembus pasar global apabila kualitas dan nilai tambah produknya terus ditingkatkan.

"Program hilirisasi harus terus dipercepat agar Indonesia tidak lagi hanya mengekspor bahan mentah. Semakin tinggi nilai tambah produk yang kita jual ke pasar internasional, semakin besar devisa yang diperoleh dan semakin kokoh fondasi ekonomi nasional," tegasnya.

Di sisi lain, Amin mengingatkan pemerintah agar secara konsisten mengurangi ketergantungan terhadap impor, terutama untuk bahan baku strategis maupun komponen industri. Penguatan industri nasional, menurutnya, akan membuat Indonesia lebih tangguh menghadapi fluktuasi nilai tukar maupun gejolak ekonomi global.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah tetap harus menjadi perhatian utama. Rupiah yang melemah secara berlebihan berpotensi meningkatkan inflasi, menaikkan biaya produksi, dan menekan daya beli masyarakat.

"Nilai tukar yang terlalu lemah tetap memiliki risiko terhadap kenaikan inflasi, meningkatnya biaya produksi, hingga melemahnya daya beli masyarakat. Karena itu, stabilitas ekonomi makro harus tetap menjadi prioritas bersama," ujarnya.

Untuk menjaga keseimbangan tersebut, Amin mendorong sinergi yang lebih kuat antara pemerintah, Bank Indonesia, dan dunia usaha dalam mengendalikan inflasi, menciptakan iklim investasi yang kondusif, mempercepat pembangunan infrastruktur, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta memperluas akses pasar ekspor Indonesia.

Ia menegaskan bahwa kekuatan ekonomi suatu negara tidak semata-mata ditentukan oleh tinggi atau rendahnya nilai mata uang, melainkan oleh kemampuan menghasilkan barang dan jasa yang memiliki daya saing tinggi di pasar internasional.

"Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam, bonus demografi, dan potensi pariwisata kelas dunia. Jika seluruh potensi tersebut dikelola secara optimal, maka pelemahan rupiah bukan hanya menjadi tantangan, melainkan juga momentum untuk mempercepat transformasi menuju ekonomi yang lebih produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan," pungkasnya.

Topik:

Rizal Siregar

Penulis

Video Terbaru

DPR Sebut Pelemahan Rupiah Bisa Dongkrak Pariwisata dan Ekspor Nasional | Monitor Indonesia