Jakarta, MI – Pasar saham Indonesia kembali mendapat tekanan kuat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,13 persen pada perdagangan Kamis (13/8/2026), di tengah sentimen negatif dari penyesuaian indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai tekanan tersebut merupakan bagian dari dinamika pasar yang lazim terjadi ketika MSCI melakukan rebalancing atau penyesuaian komposisi indeks.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan perubahan komposisi indeks global dapat mendorong investor menyesuaikan portofolionya. Kondisi itu kemudian memicu arus dana masuk maupun keluar dari pasar saham.
“Kalau outflow dan inflow itu kan sesuatu yang wajar terjadi di pasar, ya kami selalu menyerahkan seluruhnya kepada mekanisme di pasar,” ujar Jeffrey di Gedung BEI, Kamis (13/8/2026).
Potensi Dana Keluar Rp5,4 Triliun
BEI mengaku tidak menghitung secara langsung besaran dana yang berpotensi keluar akibat rebalancing MSCI kali ini. Namun, sejumlah analis memperkirakan nilai outflow berada di kisaran US$200 juta-US$300 juta, atau sekitar Rp3,6 triliun-Rp5,4 triliun.
Jeffrey menegaskan angka tersebut merupakan perkiraan analis dan bukan perhitungan resmi dari BEI.
“Tadi ada beberapa analis yang sudah menyampaikan sekitar US$200 juta atau US$300 juta gitu kan ya. Kalau dari bursa sendiri kami enggak ada perhitungan,” katanya.
Tekanan terhadap IHSG turut dipengaruhi perubahan sejumlah saham Indonesia dalam indeks MSCI. Penyesuaian tersebut membuat investor institusi yang mengikuti indeks global harus melakukan pengaturan kembali terhadap portofolio mereka.
Meski demikian, BEI menilai rebalancing MSCI bukan merupakan kejadian luar biasa. Proses tersebut dilakukan secara berkala terhadap pasar saham di berbagai negara.
BEI Kejar Kepercayaan Investor Global
Di tengah tekanan pasar, BEI menyatakan akan terus memperbaiki kualitas pasar modal Indonesia agar semakin banyak emiten nasional yang mampu masuk dalam indeks global.
Upaya tersebut dilakukan melalui peningkatan transparansi, tata kelola perusahaan, serta penguatan integritas pasar.
BEI juga menjalankan value-up program untuk membantu perusahaan tercatat meningkatkan kualitas keterbukaan informasi kepada investor.
“Dengan terus menjaga kinerja perusahaan tetap baik, tentu kita harapkan ke depan akan lebih banyak perusahaan-perusahaan tercatat dari Indonesia yang bisa masuk ke indeks-indeks global,” ujar Jeffrey.
BEI juga terus berkomunikasi dengan penyedia indeks global dan investor internasional untuk mendapatkan masukan mengenai kualitas serta daya saing pasar modal Indonesia.**
