Jakarta, MI — Rupiah memang menguat pada perdagangan Senin (17/8/2026), tetapi penguatannya belum cukup untuk menghapus tekanan berat terhadap mata uang Garuda. Rupiah masih bergerak di level sangat lemah dan nyaris kembali menembus Rp17.845 per dolar AS.
Berdasarkan data rupiah di pasar spot menguat 21 poin atau 0,12% ke Rp17.806 per dolar AS pada Senin.
Level tersebut menunjukkan rupiah masih berada tidak jauh dari zona Rp17.845 yang sebelumnya menjadi perhatian pasar.
Penguatan rupiah kali ini lebih banyak ditopang pelemahan dolar AS setelah sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat menunjukkan tanda perlambatan. Data konsumsi dan penjualan ritel AS yang melemah turut meredakan ekspektasi agresivitas kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan dolar menjadi salah satu faktor utama yang memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat.
“Yang menyebabkan dolar melemah kemudian rupiah menguat adalah salah satunya meredanya kekhawatiran tentang kenaikan suku bunga setelah data konsumen Amerika Serikat turun," kata Ibrahim.
Rp17.845 Masih Jadi Alarm
Namun, penguatan ke Rp17.806 belum bisa dibaca sebagai pembalikan tren secara meyakinkan.
Rupiah masih harus menghadapi tekanan dari faktor eksternal, terutama harga minyak mentah yang kembali berada di atas US$80 per barel. Kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk pembayaran impor dan memperlebar tekanan terhadap neraca perdagangan.
Di sisi lain, pasar juga menunggu arah kebijakan The Fed. Jika bank sentral AS mempertahankan suku bunga dalam waktu dekat, tetapi membuka peluang pemangkasan pada September, tekanan terhadap dolar berpotensi berlanjut.
Ibrahim memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga The Fed pada September kembali terbuka setelah munculnya sejumlah indikator perlambatan ekonomi AS.
“Data ini yang mendukung dalam pertemuan minggu ini Bank Sentral Amerika kemungkinan besar masih akan mempertahankan suku bunga. Bisa saja ke depan di bulan September akan menurunkan suku bunga," lanjutnya.
Bank Indonesia juga terus melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas rupiah.
Langkah tersebut menjadi penting karena pergerakan rupiah saat ini tidak hanya ditentukan faktor domestik. Arus modal asing, arah dolar AS, harga komoditas, hingga ekspektasi suku bunga global menjadi faktor yang dapat mengubah posisi rupiah dengan cepat.
Dengan posisi rupiah masih di sekitar Rp17.800-an, pasar belum bisa menganggap ancaman pelemahan telah selesai.
Level Rp17.845 menjadi angka psikologis yang patut diperhatikan. Jika tekanan kembali menguat dan rupiah menembus level tersebut, pasar berpotensi kembali dihantui kekhawatiran mengenai pelemahan lebih dalam.**
