Jakarta, MI – Gelombang demonstrasi mahasiswa yang mewarnai Jakarta pada Selasa (18/8/2026) belum mengguncang pasar saham. IHSG justru tetap berada di zona hijau, meski investor mencermati perkembangan politik dan keamanan di Ibu Kota.
Mengutip RTI Business, IHSG pada pukul 14.25 WIB berada di level 6.477, menguat 1,18%.
Penguatan tersebut menunjukkan pasar masih relatif tenang di tengah aksi demonstrasi yang berlangsung di sejumlah titik Jakarta.
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mengatakan, stabilitas politik menjadi salah satu kunci bagi pergerakan pasar saham.
“Kita harapkan situasi politik stabil. Kalau misalkan demo ini enggak menimbulkan anarkis, enggak ricuh sih aman harusnya kondisi pasar,” kata Rully di Jakarta, Selasa (18/8/2026).
Menurut Rully, risiko terbesar bukan terletak pada keberadaan demonstrasi, melainkan apabila aksi berkembang menjadi kerusuhan atau tindakan anarkis yang mengganggu stabilitas politik dan ekonomi.
Jika situasi tetap terkendali, pasar saham dinilai masih memiliki ruang untuk bergerak positif. Namun, penguatan IHSG diperkirakan tidak akan terlalu agresif hingga akhir kuartal III 2026.
Faktor utama yang menjadi perhatian justru arus dana asing atau inflow. Menurut Rully, aliran dana yang masuk ke pasar saham domestik belum cukup kuat untuk menjadi bahan bakar kenaikan IHSG secara signifikan.
“Kalau menurut saya, selain fundamental, yang paling bisa mendorong IHSG naik itu dari inflows. Kalau saya rasa inflows-nya belum cukup. Inflows-nya belum akan sangat signifikan,” ujarnya.
Dalam skenario optimistis, IHSG diperkirakan bergerak di rentang 6.500-7.000 pada kuartal III 2026.
Rully menilai peluang IHSG kembali melonjak hingga level 9.000 seperti yang terjadi tahun sebelumnya masih terbatas. Pasar diperkirakan bergerak volatil dengan ruang kenaikan yang tidak terlalu besar.
Meski demikian, belum terlihat sentimen negatif yang cukup kuat untuk memicu kejatuhan IHSG secara signifikan.
“Masih volatile, kenaikannya juga enggak akan banyak, tetapi kalau kita lihat sentimen yang bisa membuat indeks jatuh signifikan juga enggak ada kayaknya. Mudah-mudahan sudah enggak ada berita buruk,” kata Rully.**
