Jakarta, MI– Pasar saham Indonesia kembali menunjukkan tenaga setelah libur panjang. IHSG menguat dan aktivitas transaksi meningkat, memberi sinyal bahwa likuiditas mulai kembali masuk ke pasar.
Di tengah momentum tersebut, rancangan APBN 2027 menjadi sentimen domestik yang berpotensi menjaga optimisme investor.
Pada perdagangan Selasa (18/8/2026), IHSG ditutup naik 0,75% ke level 6.449,83. Penguatan tersebut ditopang transaksi yang cukup aktif dengan volume mencapai 33,65 miliar saham dan nilai transaksi Rp14,83 triliun. Sebanyak 399 saham menguat, sementara 236 saham melemah.
Kondisi itu memperlihatkan pasar mulai kembali bergairah setelah periode libur dan gejolak perdagangan sebelumnya. Namun, sinyal masuknya dana belum sepenuhnya berarti arus modal asing telah berbalik secara permanen. Investor masih mencermati arah kebijakan Bank Indonesia dan pergerakan rupiah.
Sentimen berikutnya datang dari RAPBN 2027. Pemerintah mengusulkan pendapatan negara sebesar Rp3.426 triliun, sementara belanja negara direncanakan mencapai Rp4.097,2 triliun. Defisit ditargetkan sebesar Rp671,2 triliun atau 2,40% terhadap PDB, lebih rendah dibandingkan proyeksi defisit 2026 sebesar 2,85%.
Penurunan defisit menjadi salah satu pesan penting bagi pasar. Pemerintah ingin menunjukkan disiplin fiskal sekaligus menjaga kepercayaan investor terhadap pengelolaan APBN.
Bagi pasar saham, kebijakan fiskal yang lebih terukur berpotensi menjadi katalis positif, terutama bagi saham-saham yang sensitif terhadap suku bunga dan stabilitas rupiah. Ruang fiskal yang dianggap lebih kredibel juga dapat memperkuat persepsi terhadap fundamental ekonomi domestik.
Respons pasar terhadap RAPBN 2027 sebenarnya sudah terlihat sejak penyampaian Nota Keuangan. Pada perdagangan Jumat (14/8), IHSG melesat 1,59% ke 6.401,88. Namun, pada hari tersebut investor asing masih mencatatkan net sell sekitar Rp1,03 triliun, sehingga reli IHSG belum sepenuhnya dapat disebut sebagai arus dana asing yang kuat.
Artinya, penguatan pasar saat ini perlu dibaca secara hati-hati. Investor domestik tampak lebih agresif, tetapi konsistensi arus dana asing masih menjadi pekerjaan rumah.
Faktor lain yang sedang ditunggu pasar adalah keputusan Bank Indonesia mengenai BI-Rate. Pelaku pasar memperkirakan suku bunga acuan masih dipertahankan di 5,75%, dengan pertimbangan inflasi dan stabilitas nilai tukar rupiah.**
