Jakarta, MI - Harga minyak sawit mentah (CPO) kembali menguat pada Jumat (21/8/2026), bahkan menembus level tertinggi sejak Desember 2024.
Kontrak berjangka CPO di Bursa Malaysia Derivatives naik 1,19% menjadi 5.020 ringgit Malaysia per ton hingga pukul 15.06 WIB.
Dengan kenaikan 6,6% sepanjang pekan ini, CPO berpotensi mencatat penguatan mingguan terbesar dalam 24 pekan. Ini juga menjadi kenaikan mingguan ketiga secara beruntun.
Mengutip Trading Economics, penguatan CPO ikut ditopang kenaikan harga minyak nabati di Bursa Dalian.
Di Indonesia, produsen CPO terbesar dunia, permintaan juga meningkat menjelang penerapan penuh mandat biodiesel B50 pada Oktober 2026.
Pasar juga mencermati perkembangan El Niño yang memicu kekhawatiran kondisi lebih kering dan berpotensi menekan produksi sawit di Indonesia dan Malaysia.
Meski begitu, ruang kenaikan harga masih terbatas karena pasokan yang melimpah. Persediaan minyak sawit Malaysia pada Juli 2026 bahkan naik ke level tertinggi dalam lima bulan.
Dari sisi permintaan, tekanan datang dari India. Kilang minyak nabati di negara tersebut berpotensi beralih ke minyak kedelai yang lebih murah, dengan impor diperkirakan mencapai rekor pada Agustus.
Sementara ekspor Malaysia masih menunjukkan pelemahan. Survei kargo memperkirakan pengiriman minyak sawit pada 1-20 Agustus turun 5,5%-13,2% dibandingkan periode yang sama pada Juli.
Mengutip Reuters, Intertek Testing Services memperkirakan ekspor produk minyak sawit Malaysia turun 13,2%. Sementara AmSpec Agri Malaysia memperkirakan penurunan sebesar 5,5%.
Kendati demikian, harga CPO Malaysia diperkirakan masih bertahan di atas 4.600 ringgit Malaysia per ton pada September 2026.
Malaysian Palm Oil Council menilai harga CPO masih mendapat dukungan dari pengetatan pasokan serta gangguan terhadap arus perdagangan global.
