BREAKINGNEWS

Harga CPO Melejit, Tembus Rp5.018 Ringgit per Ton: B50 dan Ancaman El Nino Jadi Pemicu

Harga CPO Melejit, Tembus Rp5.018 Ringgit per Ton: B50 dan Ancaman El Nino Jadi Pemicu
Minyak CPO

Jakarta, MI— Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) kembali melesat. Kontrak berjangka CPO di Bursa Malaysia Derivatives naik 6,54% sepanjang pekan ini, mencatat kenaikan mingguan tertinggi dalam 24 pekan terakhir.

Pada akhir pekan, harga CPO kembali menguat 1,15% hingga bertengger di level 5.018 ringgit Malaysia per ton. Kenaikan tersebut sekaligus membawa harga CPO ke level tertinggi sejak Desember 2024.

Penguatan ini memperpanjang tren positif CPO selama tiga pekan berturut-turut. Pergerakan positif harga minyak nabati di Bursa Dalian turut menjadi salah satu penopang reli komoditas sawit.

Namun, faktor penggerak CPO tidak hanya berasal dari pasar global. Indonesia sebagai produsen CPO terbesar dunia diperkirakan menghadapi peningkatan permintaan domestik seiring rencana implementasi penuh program biodiesel B50 pada Oktober 2026.

Program tersebut akan meningkatkan penyerapan minyak sawit di dalam negeri. Kondisi ini berpotensi memperketat pasokan yang tersedia untuk pasar ekspor dan memberikan tekanan tambahan terhadap harga.

Di sisi lain, ancaman El Nino mulai menjadi perhatian serius pasar. Fenomena cuaca kering berpotensi mengganggu produksi sawit di Indonesia dan Malaysia sehingga memunculkan kekhawatiran terhadap pasokan global.

Jika produksi terganggu ketika permintaan domestik justru meningkat, pasar CPO berpotensi menghadapi tekanan pasokan yang lebih besar.

Meski demikian, reli harga CPO tidak sepenuhnya tanpa hambatan. Pasokan minyak sawit Malaysia pada Juli 2026 tercatat menumpuk dan mencapai level tertinggi dalam lima bulan terakhir.

Tekanan juga datang dari pasar India. Kilang minyak nabati di negara tersebut berpotensi mengalihkan sebagian permintaan ke minyak kedelai yang harganya lebih murah.

Impor minyak kedelai India bahkan diproyeksikan mencetak rekor pada Agustus 2026. Pergeseran tersebut bisa membatasi kenaikan harga CPO di pasar global.

Kinerja ekspor Malaysia juga menunjukkan pelemahan. Berdasarkan data lembaga survei kargo Intertek Testing Services yang dikutip Reuters, pengiriman minyak sawit Malaysia periode 1-20 Agustus 2026 turun 13,2% dibandingkan periode yang sama bulan sebelumnya.

Sementara itu, AmSpec Agri Malaysia memperkirakan ekspor minyak sawit Malaysia turun 5,5% pada periode yang sama.

Meski dibayangi pelemahan ekspor dan potensi peralihan permintaan ke minyak nabati lain, prospek CPO masih dinilai kuat. Harga CPO Malaysia diperkirakan mampu bertahan di atas 4.600 ringgit per ton pada September 2026.**

Topik:

Edison Efrizal

Penulis

Video Terbaru

Harga CPO Melejit, Tembus Rp5.018 Ringgit per Ton: B50 dan Ancaman El Nino Jadi Pemicu | Monitor Indonesia