Ferdinand Sebut Tudingan Moeldoko Ingin Kudeta Kepimpinan Demokrat Tendensius

  • Whatsapp

Realitarakyat.com – Mantan kader Partai Demokrat yang juga penggiat media sosial, Ferdinand Hutahaean mengaku heran Demokrat menuduh Moeldoko dan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam isu kudeta di partai berlambang bintang mercy tersebut.

“Bagi saya secara pribadi melihat pernyataan ini ada beberapa hal. Pertama, saya tidak mengetahui bukti apa yang dimiliki oleh Demokrat untuk menuduh Moeldoko dengan membawa-bawa nama Pak Jokowi sebagai Presiden dengan menyebut lingkar dekat Jokowi. Saya melihat tuduhan ini sangat berani, tendensius dan bisa berisiko hukum. Mudah-mudahan Demokrat telah punya bukti kuat sebelum melontarkan tuduhan ini,” kata Ferdinand kepada wartawan, Selasa (2/2/2021).

Bacaan Lainnya

Mengenai 5 nama yang akan disebut akan menggulingkan Partai Demokrat menurut Ferdinand Hutahaean sebuah keanehan. Dia menyebut 5 orang tidak akan mampu menggulingkan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dari pucuk pimpinan Partai Demokrat.

“Kedua, agak janggal dan aneh bagi saya kalau yang disebut ada 5 orang yang main, ada kader dan mantan kader. Saya tidak melihat 5 orang ini punya kapasitas dan kapabilitas untuk menggerakkan sebuah peristiwa yang bisa mengkudeta AHY dari kursi ketua umum yang terpilih secara aklamasi pada kongres Maret tahun lalu,” kata dia.

“Kudeta itu harus melalui sebuah Kongres Luar Biasa dan KLB itu harus didukung dua pertiga pengurus secara nasional. Nah 5 orang yang disebut itu saya yakini dan saya tahu tak memiliki kapasitas dan kapabilitas untuk menggerakkan KLB meski benar didukung oleh Pak Moeldoko. Maka bagi saya, gerakan kelompok ini tak layak dan tak patut ditanggapi oleh partai, oleh AHY seperti itu, dia malah membesarkan gerakan kecil yang tak patut mendapat tanggapan,” sambungnya.

Ferdinand mengaku tidak mengetahui persis 5 orang kader dan mantan kader itu. Namun dia menyebut salah satunya.

“Saya juga tidak tahu siapa saja karena tidak disebut semua. Tapi yang katanya salah satunya Subur Sembiring. Nama ini memang sudah sejak lama berupaya melakukan sesuatu untuk menolak kongres Maret tahun lalu,” tuturnya.

Ketika masih menjadi kader Partai Demokrat, Ferdinand mengetahui kelompok kecil yang selalu berbicara atas nama Demokrat. Dia menilai kelompok kecil itu tidak memiliki kapasitas di partai ataupun di publik.

“Ketiga, dulu ketika saya masih aktif di sana, saya tahu persis kelompok ini, apalagi Subur Sembiring yang selalu bicara mengatasnamakan diri sebagai deklarator, dulu kelompok ini selalu saya tertawakan dan ledek sebagai gerakan kecil yang tak punya kapasitas apa-apa di partai maupun di publik. Faktanya mereka memang hanya kelompok yang tak layak ditanggapi serius. Maka cara AHY menanggapi gerakan ini dengan menggelar konferensi pers dan mengirimkan surat ke Jokowi adalah berlebihan, tidak pas dan justru membesarkan gerakan kecil,” katanya.

Selain itu, menurut Ferdinand Hutahaean, surat yang diberikan kepada Presiden Jokowi tidak tepat. Dia menyebut surat itu seharusnya langsung dikirim ke Moeldoko juga benar menjadi pihak yang dituduh.

“Keempat, surat ke Presiden Jokowi menurut saya tidak tepat. Jokowi tidak ada urusan dengan peristiwa ini. Menyebut-menyebut nama Pak Jokowi hanya mengundang reaksi yang akan merugikan Demokrat. Mestinya kalau memang Moeldoko yang dituduh, sebaiknya surati Moeldoko langsung, somasi Moeldoko, bukan malah menyurati Presiden dan membawa-bawa Presiden ke urusan internal partai. Ini bukan urusan partai dengan pemerintah, bukan dengan pula dengan Jokowi sebagai pribadi atau sebagai Presiden, jadi menyurati presiden dan meminta klarifikasi ke Presiden menurut saya tidak tepat. Nggak ada urusan,” ungkapnya.

Ferdinand juga menyarankan Moeldoko menempuh jalur hukum jika tuduhan itu tidak benar. Namun juga harus bertanggung jawab jika benar terlibat.

“Kelima, untuk Pak Moeldoko saran saya kalau memang tuduhan ini tak benar, sebaiknya mengambil langkah hukum untuk menjernihkan namanya dan juga membersihkan nama Pak Jokowi dari isu ini. Tapi jika ternyata memang benar, sebaiknya Moeldoko menyatakan bertanggung jawab dan tetap membersihkan nama Presiden karena tidak terlibat, tidak tahu-menahu dan tidak ada urusan dengan isu ini,” kata dia

Ketum Partai Demokrat AHY sebelumnya mengungkap upaya kudeta terhadapnya, yang mana dia mendapatkan informasi melibatkan orang dekat lingkaran Presiden Jokowi. Partai Demokrat menyinggung sosok jenderal.

“Para pimpinan dan kader Demokrat yang melapor kepada kami tersebut, merasa tidak nyaman dan bahkan menolak ketika dihubungi dan diajak untuk melakukan penggantian Ketum Partai Demokrat,” kata AHY dalam konferensi pers di DPP Partai Demokrat, Jalan Proklamasi, Jakpus, Senin (1/2).[prs]

Pos terkait