Harga Minyak Brent Meroket 10 Persen, Dunia Tercekik Saat Hormuz Dikunci

Jakarta, MI – Dunia energi kembali diguncang di tengah panasnya situasi Timur Tengah. Harga minyak mentah Brent melonjak 10 persen hingga menembus US$ 80 per barel, pada Minggu (1/3/2026). Pasar tak lagi sekadar bereaksi, mereka panik.
Pemicu utamanya bukan hanya serangan militer, melainkan keputusan Iran menutup Selat Hormuz, jalur sempit yang menjadi nadi 20 persen distribusi minyak global.
Direktur Energi dan Penyulingan, Ajay Parmar menilai pasar bisa mendorong harga mendekati, bahkan melampaui US$ 100 per barel bila gangguan berlangsung lama.
“Kuncinya ada di Hormuz. Selama jalur itu terganggu, harga akan terus mencari level yang lebih tinggi,” ujar Ajay Parmar di ICIS dikutip dari Reuters, Senin (2/3/2026).
Sejumlah perusahaan tanker dan raksasa energi, dilaporkan menghentikan pengiriman melalui selat tersebut.
Risiko keamanan dinilai terlalu besar. Dampaknya bukan main, potensi kehilangan pasokan mencapai 8–10 juta barel per hari, akibat keterlambatan distribusi.
Memang ada opsi pengalihan lewat pipa Timur-Barat Arab Saudi atau jalur Abu Dhabi. Namun menurut ekonom energi dari Rystad Energy, Jorge Leon, kapasitas alternatif itu tak cukup untuk menambal sepenuhnya aliran yang tersumbat di Hormuz.
Lonjakan harga ini, menjadi alarm keras bagi ekonomi global. Jika konflik terus membara dan jalur energi tetap dicekik, dunia bukan hanya menghadapi krisis pasokan, tetapi ancaman inflasi baru yang bisa menggulung banyak negara.
Topik:
