Jakarta, MI- Harga minyak dunia jatuh lebih dari 4 persen setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa perang dengan Iran berada di ambang penyelesaian.
Pernyataan tersebut langsung memicu optimisme pasar dan meredakan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global yang selama beberapa bulan terakhir mendorong lonjakan harga minyak.
Pada perdagangan Kamis (11/6/2026) waktu setempat, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 3,9 persen ke level US$86,51 per barel. Sementara minyak Brent, yang menjadi acuan pasar global, merosot 4,2 persen menjadi US$89,15 per barel.
Penurunan tajam ini terjadi setelah Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kemajuan signifikan menuju kesepakatan damai.
"Kami telah mencapai penyelesaian yang sangat baik untuk perang dengan Iran dan saat ini tinggal menunggu finalisasi dokumen," kata Trump dalam keterangannya di Gedung Putih.
Trump bahkan menyebut kesepakatan tersebut berpotensi ditandatangani di Eropa dalam beberapa hari ke depan. Pernyataan itu segera mengubah sentimen pasar yang sebelumnya dibayangi ketakutan akan meluasnya konflik di Timur Tengah.
Sebelumnya, ketegangan antara Washington dan Teheran sempat memuncak setelah serangan militer Amerika Serikat terhadap sejumlah target di Iran dibalas dengan serangan rudal ke wilayah sekutu AS di kawasan Teluk.
Situasi tersebut memicu kekhawatiran terhadap keamanan jalur distribusi energi global, terutama di Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur pelayaran minyak terpenting di dunia.
Meski mengungkapkan optimisme soal perdamaian, Trump tetap mempertahankan tekanan terhadap Iran. Ia diketahui sempat membatalkan rencana serangan udara terhadap Teheran karena proses negosiasi masih berlangsung. Namun, pemerintah AS terus menuntut Iran membuka akses pelayaran di Selat Hormuz dan menghentikan program nuklirnya.
Di sisi lain, pasar masih menaruh kewaspadaan tinggi terhadap perkembangan konflik. Sejumlah laporan menyebut Iran melancarkan serangan terhadap fasilitas militer Amerika Serikat di Kuwait dan Bahrain, serta mengancam lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
Meski demikian, analis energi menilai pasar minyak saat ini lebih siap menghadapi gangguan pasokan dibandingkan periode krisis sebelumnya.
Peningkatan produksi minyak Amerika Serikat, melambatnya permintaan dari China, serta tersedianya jalur ekspor alternatif menjadi faktor yang membantu menahan gejolak harga.
Kendati harga minyak mengalami koreksi tajam, investor masih mencermati perkembangan diplomasi antara AS dan Iran. Jika kesepakatan damai benar-benar tercapai, tekanan terhadap harga energi global diperkirakan akan terus berlanjut. Namun jika negosiasi gagal dan konflik kembali memanas, harga minyak berpotensi kembali melonjak dalam waktu singkat.
Pergerakan harga minyak dalam beberapa hari ke depan diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh hasil pembicaraan kedua negara serta kondisi keamanan di kawasan Timur Tengah yang hingga kini masih menjadi pusat perhatian pasar energi dunia.**

