Baghdad, MI– Pemerintah Irak menetapkan Rabu (8/7/2026) sebagai hari libur nasional untuk menghormati rangkaian prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Keputusan itu diambil seiring dimulainya prosesi penghormatan terakhir yang diperkirakan dihadiri jutaan pelayat dari berbagai wilayah Irak dan negara-negara lain.
Perdana Menteri Irak Ali Falih al-Zaidi mengumumkan kebijakan tersebut guna memberikan ruang bagi masyarakat mengikuti prosesi pemakaman yang digelar di dua kota suci Syiah, Najaf dan Karbala. Jenazah Khamenei bersama anggota keluarganya akan disemayamkan dan diarak sebelum kembali diterbangkan ke Iran untuk dimakamkan secara permanen.
Pemerintah Provinsi Karbala menyatakan seluruh persiapan keamanan, logistik, dan pelayanan publik telah dirampungkan untuk mengantisipasi membludaknya jumlah pelayat. Gubernur Karbala, Nassif Jassim al-Khattabi, mengatakan ribuan hingga jutaan warga dari berbagai provinsi di Irak telah bergerak menuju kota suci tersebut sejak sehari sebelumnya.
Menurutnya, prosesi penghormatan terakhir dibagi dalam tiga tahapan. Rangkaian diawali dengan upacara kenegaraan pada Selasa malam, dilanjutkan arak-arakan jenazah di Kota Suci Najaf pada Rabu pagi, sebelum prosesi penutup digelar di Karbala pada siang harinya.
Prosesi pemakaman Ali Khamenei menjadi salah satu penghormatan terbesar yang pernah digelar di kawasan tersebut. Jalan-jalan utama menuju Najaf dan Karbala dipadati para pelayat yang ingin memberikan penghormatan terakhir kepada pemimpin Iran yang memimpin negara itu sejak 1989.
Rangkaian penghormatan terhadap Khamenei sendiri telah berlangsung selama sepekan. Jenazah lebih dulu disemayamkan di Teheran pada 3–6 Juli, kemudian dibawa ke Qom pada 7 Juli sebelum diberangkatkan ke Irak untuk menjalani prosesi di Najaf dan Karbala.
Setelah seluruh agenda di Irak selesai, jenazah akan diterbangkan kembali ke Iran dan dimakamkan secara permanen di kompleks Makam Imam Ali Reza, Mashhad, pada Kamis (9/7/2026).
Pemakaman Khamenei berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan kawasan menyusul konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Meski demikian, otoritas Irak memastikan seluruh rangkaian prosesi akan mendapat pengamanan maksimal guna menjaga keamanan para pelayat.**
