BREAKINGNEWS

Relawan Aksi "Partai Kecoak" Ditahan Polisi India, Ayahnya Ikut Diperiksa

Relawan Aksi "Partai Kecoak" Ditahan Polisi India, Ayahnya Ikut Diperiksa
Relawan Aksi "Partai Kecoak" Ditahan Polisi India, Ayahnya Ikut Diperiksa

Delhi, MI— Mohammad Junaid, mahasiswa hukum berusia 24 tahun yang menjadi salah satu relawan paling dikenal dalam aksi protes mahasiswa terbesar India dalam beberapa tahun terakhir, kini mengajukan gugatan ke Mahkamah Agung India. Ia menuduh polisi menahannya secara tidak sah karena perannya dalam gerakan tersebut.

Junaid mengaku ditahan sehari sebelum aksi Cockroach Janta Party (CJP) atau Partai Kecoak berakhir, diinterogasi semalaman, lalu dilepaskan keesokan harinya. Gugatannya belum disidangkan.

Kasus ini memicu kecaman dari politisi oposisi dan kelompok pembela kebebasan sipil. Para pemimpin CJP menuduh aparat sengaja menyasar relawan mereka. Kepolisian Delhi hingga kini belum memberikan tanggapan atas permintaan konfirmasi dari BBC.

Junaid tumbuh di sebuah desa dekat Ghaziabad, India utara. Orang tuanya adalah petani kecil yang tidak pernah mengenyam pendidikan dan tidak bisa membaca maupun menulis. Meski begitu, mereka menanamkan nilai penting tentang ilmu pengetahuan sejak kecil kepada anak-anaknya.

Nilai itulah yang mendorong Junaid turun ke jalan. Saat CJP menyerukan mahasiswa berkumpul di Jantar Mantar, Delhi, pada Juni lalu untuk memprotes dugaan kecurangan dalam ujian masuk kedokteran nasional, Junaid awalnya hanya berniat hadir sehari. Ia justru bertahan selama enam minggu penuh.

Selama itu, Junaid menjadi tulang punggung logistik aksi: mengumpulkan donasi air minum, makanan, hingga selimut untuk ribuan mahasiswa yang bertahan di lokasi tanpa persiapan matang. Pengalamannya sebagai relawan dalam aksi protes petani tahun 2020 menjadi bekal berharga baginya mengelola kekacauan di lapangan.

Bantuan mengalir dari berbagai pihak—petani mengirim sayuran, gurdwara (kuil Sikh) menyalurkan makanan matang, warga menyumbang obat-obatan dan buah-buahan. Lambat laun, Junaid menjadi rujukan utama setiap kali ada bantuan yang perlu didistribusikan.

Ia mengaku hanya tidur beberapa jam setiap malam selama enam minggu itu. Yang paling membekas baginya bukan kelelahan fisik, melainkan kisah-kisah orang tua peserta ujian yang datang membawa berkas kelulusan dan bukti utang demi biaya bimbingan belajar anak mereka—termasuk sepasang orang tua yang datang pada hari yang seharusnya menjadi ulang tahun putri mereka, yang meninggal karena bunuh diri setelah soal ujian bocor.

Situasi memburuk pada 20 Juli, saat ribuan demonstran nekat berbaris menuju gedung parlemen meski dilarang polisi. Aparat merespons dengan gas air mata, pemukulan, dan penahanan massal. Junaid menghabiskan hari itu mencari mahasiswa yang hilang, menyediakan air minum, serta membantu korban luka kembali ke lokasi kemah.

Lima hari kemudian, Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan mengundurkan diri dan CJP menyatakan kemenangan, lalu resmi menghentikan aksi. Namun bagi Junaid, cerita tidak berakhir di situ.**

Topik:

Edison Efrizal

Penulis

Video Terbaru

Relawan Aksi "Partai Kecoak" Ditahan Polisi India, Ayahnya Ikut Diperiksa | Monitor Indonesia