Jakarta, MI – Kasus pembunuhan calon presiden Ekuador Fernando Villavicencio memasuki babak baru. Kejaksaan Ekuador mendakwa tujuh orang yang diduga menjadi pelaku tidak langsung dalam pembunuhan kandidat presiden tersebut pada 2023.
Dakwaan itu menyeret nama besar dari berbagai kalangan, mulai dari mantan pejabat pemerintah, mantan anggota parlemen, pengusaha hingga tokoh jaringan narkoba.
Villavicencio ditembak mati saat menghadiri kampanye di Quito pada 2023. Saat itu, politikus sekaligus mantan jurnalis investigasi tersebut berada di posisi kedua dalam jajak pendapat, hanya 11 hari sebelum pemilihan presiden digelar.
Kejaksaan Ekuador mengumumkan dakwaan terhadap ketujuh orang tersebut melalui platform X. Mereka disebut diduga terlibat sebagai pelaku tidak langsung dalam tindak pidana pembunuhan.
Salah satu terdakwa adalah mantan Menteri Dalam Negeri Ekuador Jose Serrano. Ia diduga memberikan informasi mengenai keberadaan Villavicencio kepada kelompok kriminal Los Lobos.
Nama lain yang terseret adalah mantan anggota parlemen Ronny Aleaga. Jaksa Ana Hidalgo menuduh Aleaga berperan mengoordinasikan tindakan untuk menjalankan pembunuhan tersebut.
Sementara itu, pengusaha Xavier Jordan yang kini tinggal di Amerika Serikat dituding sebagai salah satu pihak yang mendanai sekaligus merencanakan pembunuhan.
Dugaan keterlibatan jaringan narkoba juga mencuat kuat. Wilmer Chavarria, yang dikenal dengan julukan “Pipo”, disebut sebagai salah satu tokoh penting Los Lobos dan diduga ikut merencanakan pembunuhan dengan imbalan mencapai US$1 juta.
Chavarria saat ini menghadapi proses ekstradisi dari Spanyol ke Ekuador. Ia sebelumnya ditangkap di Malaga pada 2025 dan dikenal sebagai salah satu pengedar narkoba yang paling dicari di Ekuador.
Villavicencio sendiri semasa hidupnya dikenal vokal membongkar dugaan korupsi dan jaringan kejahatan terorganisir. Ia bahkan pernah melaporkan adanya ancaman terhadap dirinya sebelum akhirnya tewas ditembak ketika berkampanye.
Kasus pembunuhan tersebut sebelumnya telah menghasilkan vonis terhadap lima orang. Beberapa di antaranya dijatuhi hukuman penjara hingga 34 tahun.
Pelaku yang diduga menjadi eksekutor dalam penembakan Villavicencio tewas ditembak pengawal sang kandidat presiden. Enam tersangka lainnya yang diduga terkait dengan pembunuhan juga kemudian ditemukan tewas di dalam penjara.
Kini, dakwaan terhadap tujuh orang baru membuka kembali dugaan adanya jaringan yang lebih besar di balik pembunuhan Villavicencio. Kasus tersebut tidak lagi sekadar soal penembakan seorang kandidat presiden, tetapi juga menyeret dugaan keterlibatan lingkaran kekuasaan dan jaringan kriminal terorganisir.**
