Istanbul, MI— Ketegangan Lebanon dan Israel kembali meningkat. Hizbullah mendesak pemerintah Lebanon menghentikan perundingan langsung dengan Israel setelah Kementerian Luar Negeri Israel menerbitkan peta yang disebut memasukkan sebagian besar wilayah Lebanon selatan ke dalam wilayah Israel.
Hizbullah menilai penerbitan peta tersebut bukan sekadar persoalan diplomatik. Kelompok itu menuduh langkah Israel sebagai indikasi ambisi memperluas wilayah sekaligus menguasai sumber daya Lebanon.
Peta tersebut diterbitkan pada Jumat melalui akun berbahasa Arab Kementerian Luar Negeri Israel di platform X. Hizbullah menilai publikasi itu berpotensi merusak proses negosiasi yang tengah berlangsung.
Dalam pernyataannya, Hizbullah menuduh Israel menggunakan jalur perundingan untuk mengulur waktu sembari memperkuat keberadaannya di wilayah Lebanon selatan.
Atas dasar itu, Hizbullah mendesak pemerintah Lebanon mengambil sikap lebih keras terhadap Israel.
Kelompok tersebut meminta Beirut menghentikan perundingan langsung dan segera membawa persoalan peta tersebut ke Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Hizbullah juga menyerukan Dewan Pertahanan Tinggi Lebanon menggelar pertemuan darurat. Mereka meminta seluruh institusi negara menyusun respons bersama untuk mempertahankan kedaulatan, wilayah, dan sumber daya Lebanon.
Desakan itu muncul setelah delegasi Lebanon dan Israel menyelesaikan putaran ketujuh perundingan yang dimediasi Amerika Serikat di Roma pada Kamis.
Perundingan tersebut membahas pelaksanaan kerangka kesepakatan yang dicapai kedua pihak pada 26 Juni. Namun, proses diplomatik itu kini kembali menghadapi tekanan setelah munculnya peta yang dipersoalkan Hizbullah.
Hingga Minggu malam, pemerintah Lebanon belum memberikan tanggapan resmi mengenai peta tersebut. Beirut sebelumnya berulang kali menuntut Israel menarik seluruh pasukannya dari Lebanon selatan.
Di tengah proses diplomasi, situasi keamanan di Lebanon selatan juga masih tegang. Operasi militer Israel di kawasan tersebut dilaporkan terus berlangsung sejak 2 Maret.
Kementerian Kesehatan Lebanon menyebut serangkaian serangan tersebut telah menewaskan 4.333 orang dan melukai 12.250 lainnya.
Israel juga masih menguasai sejumlah wilayah di Lebanon selatan. Menurut laporan yang dikutip ANTARA, pasukan Israel dalam perkembangan terbaru disebut telah bergerak lebih dari 10 kilometer ke dalam wilayah Lebanon.
Situasi ini membuat jalur diplomasi kembali berada di bawah tekanan. Peta yang dipersoalkan Hizbullah kini menjadi pemicu baru perseteruan mengenai batas wilayah, kedaulatan Lebanon, dan keberadaan pasukan Israel di wilayah selatan.
Bagi Beirut, persoalan penarikan pasukan Israel dan penghormatan terhadap kedaulatan wilayah menjadi isu utama. Sementara itu, Hizbullah mendorong pemerintah Lebanon mengambil langkah diplomatik yang lebih keras melalui forum internasional.**
