Jakarta, MI - Kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan mulai dirasakan di wilayah Sarawak, Malaysia. Pemerintah Malaysia pun bersiap menyampaikan persoalan ini kepada Indonesia melalui jalur diplomatik.
Menteri Luar Negeri Malaysia Datuk Seri Mohamad Hasan mengatakan pemerintahnya serius menangani kabut asap lintas batas. Menteri Sumber Daya Alam dan Kelestarian Lingkungan Malaysia Datuk Seri Arthur Joseph Kurup akan mengirim surat kepada Menteri Lingkungan Hidup RI.
Persoalan ini juga akan dibawa ke Sekretariat ASEAN.
“Malaysia akan menggunakan mekanisme ASEAN untuk memastikan koordinasi bersama antara Malaysia dan Indonesia dalam menangani akar penyebab kebakaran hutan yang berkontribusi terhadap polusi udara lintas batas,” ujar Mohamad Hasan, dikutip dari media Malaysia.
Kondisi udara di Sarawak memang memburuk. Data Sistem Manajemen Indeks Pencemar Udara Malaysia (APIMS) mencatat API di Serian mencapai 242 pada pukul 06.00 waktu setempat. Angka tersebut masuk kategori sangat tidak sehat.
Serian berada tidak jauh dari perbatasan Malaysia-Indonesia sehingga kondisi ini menjadi perhatian.
Di sisi Indonesia, karhutla masih terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Barat. BPBD Kalbar mencatat 3.759 hotspot terdeteksi.
Dari jumlah itu, 224 titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi, 3.389 tingkat kepercayaan menengah, dan 146 tingkat kepercayaan rendah.
Ketapang menjadi daerah dengan hotspot terbanyak, yakni 1.795 titik. Sebanyak 81 di antaranya memiliki tingkat kepercayaan tinggi.
Hotspot juga terdeteksi di Sanggau 466 titik, Landak 268 titik, Kubu Raya 254 titik, Kayong Utara 200 titik, dan Melawi 190 titik.
BPBD Kalbar masih melakukan pemadaman melalui jalur darat dan udara. Namun, asap tebal mulai mengganggu aktivitas warga.
Jarak pandang di Ketapang dan Kubu Raya sempat turun di bawah satu kilometer pada pagi hari.
“Jarak pandang sempat turun di bawah satu kilometer akibat kabut asap tebal di Kabupaten Ketapang dan Kubu Raya pada pagi hari,” kata Kasatgas Informasi Bencana BPBD Kalbar Daniel.
Kualitas udara di beberapa daerah juga berada pada level yang mengkhawatirkan. Konsentrasi PM2.5 di Jongkat, Kabupaten Mempawah, mencapai 148,8 mikrogram per meter kubik dan masuk kategori tidak sehat.
Di Sungai Tebelian, Kabupaten Sintang, PM2.5 tercatat 309,1 mikrogram per meter kubik. Sedangkan di Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, angkanya mencapai 254,1 mikrogram per meter kubik.
Kondisi tersebut membuat persoalan karhutla kembali menjadi isu lintas batas. Indonesia masih berjibaku dengan kebakaran di Kalimantan, sementara asapnya berpotensi terbawa angin hingga ke Malaysia.
Malaysia kini menempuh jalur diplomatik dan meminta persoalan ini dibahas bersama melalui mekanisme ASEAN.
