“Golden Generation” Gagal Timnas Inggris

  • Whatsapp
https://englandmemories.com“Golden Generation” Gagal Timnas Inggris
Timnas Inggris 2002 [Foto-englandmemories]

Monitorindonesia.com – Terasa familiar dengan istilah ‘golden generation’ dalam dunia sepakbola ? ya, istilah ini sering disematkan kepada Tim Nasional suatu negara yang pada era waktu tertentu memiliki banyak pemain hebat.

Kali ini tim Monitorindonesia.com akan membahas mengenai apa yang terjadi dengan ‘Golden Generation’ Timnas Inggris.

Bacaan Lainnya

Pada era tahun 2001 – 2007, Timnas Inggris dihuni oleh banyak pemain bintang, namun tim tersebut sama sekali tidak ada mempersembahkan gelar bagi Inggris. Gelar pertama dan terakhir Inggris dalam sepakbola internasional mereka raih pada Piala Dunia 1966 dimana mereka berhasil juara yang sekaligus menjadi tuan rumah. Setelah itu mereka hanya bisa mencapai semi-final di Piala Dunia 1990 dan 2018, serta semi-final EURO 1996.

Lalu apa yang terjadi di periode waktu 2001 – 2010 ? padahal di era waktu itu ada Piala Dunia 2002, EURO 2004, Piala Dunia 2006, EURO 2008 dan Piala Dunia 2010. Dimasa itu banyak harapan dan target tinggi disematkan pada ‘Golden Generation’ Inggris, sebut saja seperti :

  • David Beckham (Man. United, Real Madrid)
  • Frank Lampard (Chelsea)
  • Michael Owen (Liverpool, Real Madrid)
  • Steven Gerrard (Liverpool)
  • John Terry (Chelsea)
  • Ashley Cole (Arsenal, Chelsea)
  • Wayne Rooney (Man. United)
  • Rio Ferdinand (Man. United)
  • Gary Neville (Man. United)
  • Paul Robinson (Leeds United, Hotspurs)
  • Owen Hargreaves (Bayern Munchen, Man. United)
  • Joe Cole (Chelsea)
  • Sol Campbell (Arsenal)
  • Paul Scholes (Man. United)
  • dan lainnya.

Dibawah asuhan Sven-Goran Eriksson Inggris gagal tampil sesuai ekspektasi.

1. Rivalitas Antar Klub dan Ego Yang Besar

https://twitter.com
Kebanyakan ‘golden generation’ timnas Inggris bermain di dalam negeri dan tersebar di antara klub-klub besar Liga Premier. Tensi tinggi dan persaingan di liga tetap mereka bawa ke Timnas Inggris, dimana para pemain terlalu kompetitif di level klub dan terlalu ego untuk membentuk ikatan ketika bermain di Tim Nasional.

Hal inilah yang membedakan Italia dan Spanyol ketika menjuarai EURO dan Piala Dunia, pada 2006 ketika Italia juara dunia para pemainnya berada di klub-klub besar yang memiliki rivalitas hebat seperti Juventus, AC Milan, Inter Milan, AS Roma, dan klub Italia lainnya.

Begitu juga ketika Spanyol juara EURO dan Piala Dunia berturut-turut pada 2008, 2010 dan 2012, para pemainnya rata-rata membela Real Madrid dan Barcelona yang terkenal dengan rivalitas panasnya yakni El Clasico, namun ketika bermain membawa nama Spanyol, mereka mengesampingkan ego dan rivalitas mereka.

#Golden Generation Gagal Timnas Inggris

Pos terkait