Harga Kedelai Meroket, Importir Bantah Ada Kartel!

  • Whatsapp
Harga Kedelai Meroket, Importir Bantah Ada Kartel!

 

MI, Jakarta – Kenaikan harga kedelai belakangan menuai polemik. Bahkan Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso (Buwas) bahkan menyebutnya karena permainan kartel. Harga kedelai memang terus naik pada awal Januari masih Rp 9.000-an per kg, tapi memasuki pertengahan Februari sudah mencapai Rp 12.750 per kg di Jakarta dan Jabar.

Namun, Ketua Asosiasi Kedelai Indonesia (Akindo) Yusan mengungkapkan fenomena ini bukan baru kali ini terjadi. Beberapa tahun silam, kenaikan harga kedelai tidak bisa terhindarkan. Sebagai akibat, muncul kecurigaan bahwa penyebabnya karena ada pihak importir yang bermain.

“Kenaikan harga karena ada persaingan bebas, importir umum dan KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) tahun 2013-2014 lalu sudah pernah turun tangan atas dugaan itu, tapi ternyata nggak ada kartel itu,” ungkap Yusan, Senin (8/2).

Sebagai komoditas internasional, kenaikan maupun penurunan harga kedelai sangat lekat kaitannya dengan permintaan dan penawaran. Ketika permintaan naik, apalagi stok berkurang, maka otomatis ada kenaikan, seperti yang terjadi saat ini.

“Sejak November untuk mengantisipasi Imlek, China impor kedelai untuk ternak dari 15 juta ton ke 30 juta ton. Semula dari Brazil, tapi karena Brazil kena La Nina jadi produksi menurun, juga karena pandemi. Kalau Amerika Serikat murni pandemi aja, jadi dialihkan pembeliannya ke Amerika,” sebutnya.

Akibat kalah bersaing dengan China yang memesan lebih banyak, maka Indonesia kewalahan. Namun kejadian ini bukan kali pertama, meski memang tidak sering.

“Kenaikan itu jarang sekali, terjadi di 2013 karena kekeringan dunia, pernah gonjang ganjing kurs, sekarang ini baru kenaikan lagi,” kata Yusan.

Meski jarang terjadi, namun kejadian ini memantik Buwas dan menyebutnya karena salah satu penyebab kenaikan harga kedelai ialah ‘lingkaran setan’ kartel importir kedelai.

“Kenapa bisa mahal? Teman-teman bisa lihat, akar masalahnya karena kartel terlalu banyak, birokrasi terlalu panjang. Satu ke satu semua pakai biaya yang kita istilahkan ini satu wujud korupsi sebenarnya. Tapi hasil atau beban korupsi dibebankan ke masyarakat/konsumen,” katanya dikutip dari detikcom.

KPPU memang pernah merilis pernyataan pada 2012 lalu, bila mengacu pada data KPPU pada tahun 2008, struktur pasar importasi kedelai ini dalam perspektif ilmu ekonomi bersifat pasar oligopolistik dengan indikasi bahwa 74,66% pasokan kedelai ke dalam negeri yang dilakukan oleh importir dikuasai oleh 2 pelaku usaha yaitu PT Cargill Indonesia dan PT Gerbang Cahaya Utama (GCU).

Pada saat itu KPPU menduga terjadi pengaturan pasokan oleh kedua perusahaan tersebut namun setelah dilakukan penyelidikan lebih lanjut indikasi dugaan kartel ini tidak kuat karena pola pergerakan harga penjualan diantara kedua pelaku pasar tidak memiliki pola keteraturan dan fluktuatif, demikian juga dengan volume importasinya. Di samping itu, kebijakan pasar kedelai nasional tidak menghambat pelaku usaha lain untuk masuk pasar.

Pos terkait