Hilangkan Nama Hasyim Asy’ari, Kemendikbud Minta Maaf

  • Whatsapp
pembelajaran-tatap-muka-dibuka-awal-juli
Mendikbud Nadiem Makarim.[ist]

Jakarta, Monitorindonesia.com – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyampaikan permohonan maaf atas kealfaannya yang tidak mencantumkan nama tokoh pendiri Nahdlatul Ulama (NU), Syekh Hasyim Asy’ari pada Kamus Sejarah Indonesia dua Jilid I dan II. Kemendikbud tidak ada niat untuk menghilangkan tokoh sejarah Syekh Hasyim Asy’ari dalam buku terbitan kementerian itu.

Hal itu dikatakan Dirjen Kebudayaan Kemdikbud, Hilmar Farid pada konferensi pers daring, Selasa (20/4/2021). Menurutnya, di dalam buku yang sama sudah dimuatkan informasi beberapa kali pada beberapa bagian tentang pendiri dari NU.

Bacaan Lainnya

“Tidak ada maksud untuk menghilangkan tokoh besar Syekh Hasyim Asy’ari dari penulisan sejarah. Bahkan pada tahun yang sama 2017, Kemdikbud menerbitkan biografi ringkas dari Kyai Haji Syekh Hasyim Asy’ari melalui Museum Kebangkitan Nasional,” kata Hilmar.

Hilmar menyebutkan, ringkas biografi tersebut ditulis oleh tokoh-tokoh NU. Oleh karena itu, Dia menegaskan narasi bahwa ada upaya untuk menghilangkan tokoh sejarah tidak benar.

“Memang ada kesalahan teknis dalam penyusunan dan kami tentu memohon maaf karena ini adalah kesalahan yang sebetulnya tidak perlu terjadi. Buku yang belum siap untuk diedarkan sudah di-upload ke website,” ucap Hilmar.

Hilmar memastikan, pihaknya menarik buku tersebut dari website Rumah Belajar. Selanjutnya, Hilmar mengatakan, telah meminta kepada staf untuk menurunkan semua buku yang terkait dengan sejarah modern untuk ditinjau ulang.

“Kita tidak mau ada lagi kejadian seperti ini. Kami khususnya dari Direktorat Jenderal Kebudayaan sangat menyesalkan bahwa itu terjadi dan mohon kerja samanya untuk memastikan ke depan buku-buku kita lebih berkualitas,” kata Hilmar.

Hilmar menjelaskan, Kamus Sejarah Indonesia ini mulai disusun 2017 dan risetnya melibatkan banyak pihak karena merupakan kampus sejarah yakni isinya bukan uraian dari awal sampai akhir tetapi entri dan penulisannya dilakukan per entri.

Sejak 2017 itu, lanjut Hilmar, naskah tersebut disimpan, namun pada 2019 untuk memenuhi permintaan penyediaan bahan-bahan terkait sejarah yang akan dimuat di dalam situs Rumah Belajar.

“Saya sudah mengecek sampai staf yang mengerjakan di lapangan betul-betul saya urut kronologisnya dan kesimpulannya memang ini betul-betul kealpaan, keteleledoran boleh dibilang begitu ya naskah yang sebenarnya tidak siap, kemudian sudah dimuat di dalam website,” jelasnya.[ben]

Pos terkait