Para Terpidana Kasus Vina dan Eky Kumpulkan Novum, Peninjauan Kembali Baru Diajukan ke MA

Aldiano Rifki
Aldiano Rifki
Diperbarui 23 Juni 2024 15:34 WIB
Para terpidana kasus pembunuhan Vina dan Eky (Foto: Dok MI)
Para terpidana kasus pembunuhan Vina dan Eky (Foto: Dok MI)

Jakarta, MI - Para terpidana kasus pembunuhan Vina dan Eky Cirebon pada 2016 silam akan mengajukan Peninjauan Kembali (PK) ke Mahkamah Agung (MA) atas vonis seumur hidup yang dijatuhkan majelis hakim. Saat ini tim kuasa hukum para terpidana sedang mengumpulkan bukti-bukti baru (novum).

Enam terpidana tersebut kini dititipkan di Rumah Tahanan (Rutan) Kebon Waru, Bandung. Mereka adalah Jaya, Supriyanto, Eka Sandi, Hadi Saputra, Eko Ramadhani, dan Rivaldi Aditya Wardana. Para terpidana tersebut telah memberikan surat kuasa terhadap tim pengacara dari peradi untuk mengajukan PK.

Saat ini, tim pengacara lima terpidana sedang mengumpulkan bukti baru atau novum untuk memperkuat pengajuan PK ke MA. Sementara itu, satu terpidana lainnya yakni Sudirman juga akan melakukan PK. Namun saat ini Sudirman masih menjalani pemeriksaan oleh penyidik Ditreskrimum Polda Jabar.

Diketahui, Vina dan Eky mulanya diduga tewas akibat kecelakaan tunggal. Namun, setelah diselidiki lebih lanjut, ternyata keduanya dibunuh dengan sangat sadis.

Polisi menetapkan 11 tersangka dalam kasus pembunuhan Vina dan kekasihnya, Muhammad Rizky Rudian alias Eky. Delapan pelaku telah diadili, yakni Jaya, Supriyanto, Eka Sandi, Hadi Saputra, Eko Ramadhani, Sudirman, Rivaldi Aditya Wardana, dan Saka Tatal.

Tujuh terdakwa divonis penjara seumur hidup. Sementara itu, Saka Tatal yang kala itu anak di bawah umur dihukum delapan tahun penjara. Saka mendapat pengurangan hukuman menjadi empat tahun penjara dan bebas April 2020.

Selain delapan tersangka, Polda Jabar menetapkan tiga buron. Ketiga tersangka yang masuk daftar pencarian orang (DPO) ialah Pegi Setiawan alias Perong, Andi dan Dani.

Delapan tahun berlalu, polisi menangkap Pegi Setiawan alias Perong di Bandung pada Selasa malam, 21 Mei 2024. Namun, dua DPO Andi dan Dani dihilangkan karena dinilai hanya keterangan fiktif dari pelaku lainnya.