Bocah 13 Tahun Tewas Diduga Disiksa hingga Tewas, 30 Anggota Sabhara Polda Sumbar Diperiksa

Adelio Pratama
Adelio Pratama
Diperbarui 23 Juni 2024 22:29 WIB
Ilustrasi - Penyiksaan terhadap anak (Foto: Ist)
Ilustrasi - Penyiksaan terhadap anak (Foto: Ist)

Jakarta, MI - Sebanyak 40 orang saksi telah diperiksa soal kasus tewasnya bocah berinisial AM (13) yang diduga disiksa anggota polisi di Padang, Sumatera Barat (Sumbar).

Dari 40 orang saksi itu, 30 orang di antaranya anggota polisi.

"Dalam 40 saksi yang dimintai keterangan ada 30 personel Sabhara Polda Sumbar, yang mana pas kejadian itu sedang mengamankan sebanyak 18 pelajar yang tawuran di Kuranji tersebut," kata Kapolda Sumatera Barat Irjen Suharyono, Minggu (23/6/2024).

Jika nantinya dari 30 personel itu ada yang terbukti melakukan perbuatan tersebut, maka pihaknya tak segan untuk menindak tegas.

Kendati, hingga saat ini belum ada anggota kepolisian yang diamankan mengenai kejadian tersebut.

"Untuk sementara belum ada yang kita amankan dalam kasus ini, dan hasil autopsi masih belum keluar, kita masih menunggu," bebernya.

"Saya bertanggung jawab penuh akan kasus penemuan jasad AM. Yang jelas, kita akan kawal penuh kasus ini, bagaimana kelanjutan ini akan terus kita sampaikan kepada media," imbuhnya.

Adapun AM ditemukan meninggal dunia dengan luka lebam di Sungai Kuranji, dekat jembatan di Jalan Bypass, Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), Minggu (9/6/2024) siang sekitar pukul 11.55 WIB.

Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang Indira Suryani mengatakan AM diduga menjadi korban penganiayaan atau penyiksaan anggota polisi.

Berdasarkan hasil investigasi yang dilakukan LBH Padang, AM bersama rekannya ditangkap oleh anggota Sabhara Polda Sumbar yang melakukan patroli pada Sabtu (8/6/2024) malam hingga Minggu dini hari, karena diduga hendak melakukan tawuran. 

“Keterangan saksi, AM sempat dikerumuni polisi, sempat melihat juga pemukulan terhadap AM. Setelah itu, saksi tidak tahu lagi karena mereka juga dipukuli dan diangkut ke polsek setempat dan mendapat penyiksaan,” kata Indira, Jumat (21/6/2024).

Indira menduga anak-anak dan pemuda yang ditangkap tersebut mendapat siksaan agar mengaku hendak melakukan tawuran.