Nah Loh, Komisaris Inalum Ahmad Erani Yustika Pansel Capim KPK, Dirutnya (Danny Praditya) Malah Tersangka Korupsi PGN

Aldiano Rifki
Aldiano Rifki
Diperbarui 25 Juni 2024 00:04 WIB
PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) (Foto: Dok MI)
PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) (Foto: Dok MI)

Jakarta, MI - Salah satu anggota panitia seleksi (Pansel) calon pimpinan dan anggota Dewan Pengawas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tercatat sebagai komisaris Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Adalah Ahmad Erani Yustika. 

Berdasarkan situs resmi Kementerian BUMN, Ahmad Erani tercatat merupakan komisaris PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), perusahaan pelat merah yang menjadi bagian dari MIND ID. Pada 2021 lalu, Erani tercatat sebagai Komisaris PT Waskita Karya (Tbk), perusahaan negara yang bergerak di bidang konstruksi. 

Rekam jejak yang mumpuni ini, Ahmad Erani diharapkan dapat memberikan kontribusi positif dalam menjaring calon pimpinan KPK yang memiliki integritas tinggi.

Ahmad Erani sendiri juga seorang ekonom senior di Institute for Development of Economics and Finance (Indef) dengan pengalaman panjang di berbagai bidang. Bahkan, dia juga dikenal sebagai akademisi dan aktivis antikorupsi yang gigih.

Namun, di sisi lain, KPK sedang tengah mengusut kasus dugaan korupsi yang melibatkan Direktur Utama Inalum, Danny Praditya.

Danny Praditya terjerat dalam kasus tersebut bukan saat menjabat sebagai orang nomor satu di perusahaan peleburan alumunium plat merah itu, melainkan saat menjabat sebagai Direktur Komersial PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) pada 2016-2019.

Kasus ini bermula dari adanya laporan dari masyarakat yang mengindikasikan adanya dugaan korupsi di PGN yang diduga merugikan negara hingga ratusan miliar rupiah.

KPK menduga bahwa terdapat penyimpangan dalam proses pengadaan barang dan jasa di perusahaan plat merah tersebut. Saat ini, Danny Praditya masih aktif menjabat sebagai Direktur Utama Inalum setelah diangkat oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir pada Maret 2023 lalu. 

Kini Danny merupakan tersangka dugaan korupsi jual beli gas di PT Perusahaan Gas Negara (PGN) dan PT Inti Alasindo Energi (IAE) pada periode 2017-2021. Selain Danny, Iswan Ibrahim, Direktur Utama PT Isargas juga ikut jadi tersangka. Keduanya ditetapkan tersangka dengan dua sprindik berbeda.

Surat Perintah Penyidikan Nomor Sprindik 79/DIK.00/01/05/2024 tanggal 17 Mei 2024. Serta, Surat Perintah Penyidikan Nomor Sprindik 80/DIK.00/01/05/2024 tanggal 17 Mei 2024.

Adapun tim penyidik KPK masih terus mengembangkan dugaan korupsi jual beli gas di PT PGN itu. Baru-bari ini penyidik lembaga anti rasuah itu melakukan penggeledah terhadap tiga rumah berbeda yang berlokasi di kawasan Jakarta terkait penyidikan kasus tersebut.

Penggeledahan dilakukan guna melengkapi berkas penyidikan dengan tersangka Danny Praditya yang juga Direktur Komersial PT PGN periode 2016-2019 dan komisaris PT Inti Alasindo Energi (IAE), Iswan Ibrahim (II).

“(Tindakan penggeledahan dilakukan – red) sehubungan dengan penanganan perkara dugaan Tipikor atas transaksi jual beli gas antara PT PGN dan PT IAE 2017-2021 yang dilalukan tersangka DP selaku Direktur Komersial PT PGN 2016-2019 dan kawan-kawan serta tersangka II selaku komisari PT IAE,” kata Juru Bicara KPK Tessa Mahardika.

Dalam mengusut kasus ini, KPK telah menggeledah tiga rumah di Jakarta milik AM, HJ, dan DSW. AM dan HJ adalah mantan pegawai PGN, sementara DSW merupakan mantan direksi PGN.

Dari penggeledahan ini, tim penyidik menyita sejumlah dokumen terkait jual beli gas antara PGN dan Inti Alasindo Energi. Tak hanya itu, tim penyidik juga menyita barang bukti elektronik.

Penyitaan ini dilakukan tim penyidik saat menggeledah tiga rumah pegawai PT PGN terkait kasus dugaan korupsi jual beli gas di PT PGN. Kasus korupsi ini diduga merugikan keuangan negara ratusan miliar rupiah.