Ilmuwan Peringatkan Varian Baru Covid Belum Dicakup Vaksin

  • Whatsapp
ilmuwan-peringatkan-varian-baru-covid

AS, Monitorindonesia.com – Masih jarang ditemukan tetapi tetap bertambah, sejumlah orang mengalami infeksi lanjutan Covid-19 setelah disuntik vaksin.

“Tidak ada yang sifatnya mutlak 100 persen di dunia ini,” ungkap Gigi Gronvall, seorang ahli senior di pusat Johns Hopkins untuk keamanan kesehatan.

Bacaan Lainnya

Seiring beberapa varian Covid-19 muncul di dunia, para ahli mengatakan bahwa penting untuk memperhatikan kasus-kasus langka seperti ini. Mungkin saja itu tanda-tanda akan lebih buruk.

“Mungkin saja muncul varian lain yang tidak dicakup oleh vaksin,” Gronvall menuturkan. “Itulah sebabnya penting kasus baru ini dinvestigasi.”

Dari 95 juta orang yang sudah disuntik vaksin Covid-19 sampai 26 April 2021 berdasarkan data dari lembaga pencegahan dan penanganan penyakit AS (Centers for Disease Control Prevention – CDC).

“Tidak semua orang yang menerima vaksin menerima dampaknya,” kata Jacques Ravel, asosiasi direktur untuk ilmu genomik di universitas Maryland Institute. “Kita tidak 100 persen yakin meskipun mereka sudah divaksin, sistem imun mereka langsung meningkat.”

Untuk membedakan perbedaan antara respon imun yang lemah dan varian virus baru, para ahli harus mempelajari kembali kode genetik atau lanjutan dari virus yang terinfeksi kepada para pasien yang sudah divaksin.

Universitas Maryland merupakan bagian dari jaringan institusi untuk rentetan virus Corona (Corona Virus) di seluruh dunia. Ravel menjelaskan bahwa mereka yang terinfeksi setelah divaksin itu karena tubuh mereka tidak menerima vaksinasi tersebut sehingga tidak ada penjagaan dari virus.

“Di sisi lain kita melihat sekeliling kita yang terinfeksi varian yang sama di masyarakat,” dia menuturkan.

Sejauh ini vaksin yang digunakan pada umumnya bekerja sangat efektif untuk melawan varian Covid-19. Temuan Israel terbaru dimana varian vaksin pertama yang diidentifikasi dominan di Britain, vaksin Pfizer-BioNTech 95 persen efektif.

Varian UK ini tersebar lebih mudah dan mungkin lebih mematikan dari pada aslinya.
Tetapi ada beberapa tanda peringatan, dalam sebuah studi di Qatar dimana varian yang muncul di Afrika Selatan hampir setengah dari kasus yang terjadi, vaksin Pfizer BioNTech hanya 75% efektif. Varian tersebut juga terbukti lebih baik menerobos vaksin lainnya.[Yohana RJ]

 

Sumber: VOA

Pos terkait