Imigran Anak-Anak Melewati “Darien Gap” Kolombia-Panama Terus Meningkat

  • Whatsapp
Imigran Anak-Anak Melewati "Darien Gap" Kolombia-Panama Terus Meningkat

Monitorindonesia.com – Jumlah imigran anak-anak yang melewati Darien Gap yang terkenal sangat berbahaya di antara Kolombia dan Panama telah meningkat secara drastis. Hal itu diungkap lembaga kesejahteraan anak PBB mengungkapkan pada Senin (29/03/2021).

Imigran di bawah umur yang melewati jalur hutan hanya sekitar 2% pada tahun 2017. Lonjakan terjadi di tahun 2020 jumlah immigrant anak-anak mencapai 25% dengan jalur yang sulit dan berjalan kaki, terungkap melalui laporan UNICEF.

Darien Gap berjarak 60 Mil (97 km) merupakan hutan tanpa lintasan jalan dan hanya terdapat jalur darat di bagian utara Amerika Selatan. Hanya ada sedikit makanan dan tempat berlindung dengan lintasan perjalanan berminggu-minggu sementara itu para penjahat dan banyak binatang liar yang mengintai para migran.

Kebanyakan imigran mendaki dari Haiti atau Kuba dengan jumlah yang sedikit berasal dari Afrika seperti Kamerun dan Kongo dan beberapa negara Asia selatan seperti India, Bangladesh dan Sri Lanka.

“Saya telah bertemu beberapa wanita keluar dari hutan dengan bayi di pelukan mereka setelah berjalan tujuh hari tanpa minuman, makanan ataupun alat perlindungan lainnya,” ujar Jean Gough, Kepala Regional UNICEF yang melakukan perjalanan selama dua hari ke wilayah tersebut.

“Para keluarga ini telah melewati batas mereka dan membahayakan nyawa mereka. Mereka sering tidak menyadari risiko yang mereka ambil khususnya risiko pada anak-anak mereka,” Gough menjelaskan lebih lanjut.

“Para imigran yang terjebak di hutan menhadapi banyak ancaman termasuk bahaya kematian” PBB melaporkan “Pada konteks para wanita terutama wanita hamil, gadis, anak-anak dan remaja yang paling rentan terhadap bahaya.”

Sementara terdapat 109 anak yang melakukan perjalanan pada tahun 2017, kemudian meningkat menjadi 3,956 pada tahun 2019. Pandemi Covid-19 dan pembatasan perjalanan mengurangi jumlah imigran pada tahun 2020 menurun menjadi 1.653.

Dalam empat tahun terakhir, jumlah total imigran setidaknya mencapai 46,500 yang melakukan perjalanan kaki dan dalam tahun tahun itu termasuk ikut minoritas 6,240.

“Dampak sosial ekonomi dari pandemic Covid-19 dan juga tindakan kekerasan, rasis, pengangguran dan fenomena iklim ekstrim mungkin akan meningkatkan tingkat kemiskinan dan mendorong sejumlah keluarga untuk bermigrasi ke negara bagian utara pada bulan – bulan yang akan datang,” laporan PBB mengungkapkan.

Pemerintah AS telah menghadapi peningkatan jumlah anak –anak tanpa pengawasan dan keluarga bersama anak – anak mereka yang baru saja tiba di perbatasan selata dalam beberapa bulan ini. Minggu lalu ada sekitar 18,000 anak – anak tanpa pengawasan di pengawasn pemerintah.[Yohana RJ]

Sumber: VOA News

Pos terkait