India Mencatat Hampir 300.000 Kematian Karena Covid-19

  • Whatsapp
India Mencatat Hampir 300.000 Kematian Karena Covid-19

New Delhi, Monitorindonesia.com – India mencatat jumlah kematian karena Covid-19 hampir 300,000 setelah ditambahkan dengan lebih dari 3.700 kasus kematian yang terjadi dalam 24 jam terakhir.

Negara tersebut mencatat 240,000 kasus infeksi positif Covid-19 pada hari Minggu (23/05/2021) yang diyakini banyak yang belum dihitung karena kekurangan alat tes.

Pemerintahan India mengatakan Sabtu (22/05/2021) bahwa infeksi Covid-19 masih tetap tinggi karena mereka menyebar ke pelosok daerah, situasi sudah mulai stabil di beberapa daerah.

Sementara varian baru virus yang pertama kali ditemukan di India telah meningkatkan kewaspadaan dunia, sebuah penelitaian menemukan bahwa vaksin Pfizer dan AstraZeneca efektif terhadap pencegahan virus Covid-19 dengan dua dosis sekaligus, Sabtu (22/05/2021).

Penelitian yang dilakukan oleh Public Health England menemukan bahwa vaksin Pfizer 88% efektif terhadap B.1617.2 atau varian dari India dan 93% efektif terhadap B.1.17 yang sekarang dikenal varian Kent. Vaksin AstraZeneca 60% efektif terhadap virus varian dari India dan 66% efektif terhada varian English.

Dalam kedua kasus, tingkat efektivitas diukur dalam dua minggu setelah dua kali suntikan dan melawan penyakit bergejala tersebut. Kedua vaksin memiliki tingkat efektivitas yang terbatas jika hanya satu dosis.

Varian Kent dominan terjangkit di Inggris tetapi lembaga kesehatan takut varian India akan melebihi dampaknya.

Pada Minggu (23/05/2021) Wall Street Journal melaporkan bahwa para ilmuwan dari Cina, Wuhan Institute of Virology (WIV) di Wuhan diakui oleh rumah sakit pada November 2019 sebelum sebelum Cina mengkonfirmasi kasus pertama kasus Covid-19.

Berita yang mengutip berita dari badan intelijen AS melaporkan bahwa akan ditentukan satu hari untuk pembuatan keputusan WHO dijadwalkann untuk rapat membahas pandemic dan akan menambahkan bahan baka teori yang terlewatkan di laboratorium.

Laporan tersebut bukan yang pertama mencantumkan kemungkinan Cina sebelumnya telah mengetahui virus tersebut. Sebelum akhir pemerintahan Trump, sebuah lembaran fakta yang dikeluarkan oleh kementerian luar negeri mengatakan bahwa pemerintah AS memiliki alasan untuk meyakini bahwa beberapa peneliti yang ada di dalam WIV menjadi sakit pada musim semi 2019 sebelum kasus pertama Covid-19 terkuak dengan gejala yang sama dengan kasus kedua dan penyakit musiman biasa.

Rapat WHO akan mulai Senin (24/05/2021) sampai dengan Selasa (01/06/2021).[Yohana RJ]

 

Sumber: VOA News

Pos terkait