Ini Enam Alasan Balapan Formula E di Jakarta Tak Bermanfaat

  • Whatsapp
Ini Enam Alasan Balapan Formula E di Jakarta Tak Bermanfaat
Anggota Komisi B dari Fraksi PDI Perjuangan DPRD DKI Jakarta Gilbert Simanjuntak. [Foto/Dok MI]]

Monitorindonesia.com – Rakyat tidak butuh Formula E. Pelaksanaan balapan ini jelas akan merugi, tidak seperti yang diungkapkan Pemprov DKI akan untung, karena beberapa perhitungan. Hal itu disampaikan anggota Komisi B DPRD Jakarta Gilbert Simanjuntak kepada Monitorindonesia.com di Jakarta, Kamis (25/3/2021).

Perhitungan pertama, kata Gilbert, sejak awal hampir semua kegiatan Formula E merugi di semua negara hingga pernah dibatalkan di negara lain. “BMW dan Audi mundur karena melihat potensi kerugian. Sebenarnya Formula E sudah redup sejak awal berdiri, sehingga menjadi aneh kenapa DKI ngotot bela Formula E,” ujar politisi PDI Perjuangan itu.

Kedua adalah biaya di Indonesia dua kali lebih besar dari biaya di negara lain. Apapun alasannya, misalnya bank garansi dan commitment fee, tetap saja biaya ini 2x lebih besar.

“Malah aneh, kenapa negara lain tidak bayar komponen biaya tersebut. Kesannya Formula E tidak percaya, atau sengaja mengambil keputusan dengan ambisi tak terukur DKI. Dengan biaya setengah DKI saja, negara lain merugi, apalagi biaya 2x lipat negara lain dan suasana pandemi,” jelas Gilbert.

Ketiga, kondisi pandemi ini sangat sulit berharap ke turis asing datang ke Jakarta.
Keempat, biaya lebih dari Rp. 1 T yang sudah keluar tidak akan mampu kembali, dimana keuntungan yang harus lebih dari Rp. 1 T.

Belum lagi harus keluar lagi commitment fee untuk periode ketiga diperkirakan sebesar Rp. 400 M, dan biaya pelaksanaan (pembuatan jalur dengan spesifikasi tertentu, podium/stadium, iklan, EO, pengawasan, dll)
5.

“Keuntungan DKI Jakarta akan dikenal hanyalah dalam kata-kata. DKI Jakarta sudah dikenal kecuali di Antartika, malah Formula E yang tidak terkenal. Yang terkenal adalah Formula 1, maka kalau mau lebih dikenal, ambil Formula 1,”ucap Gilbert.

Event/kejadian sekali saja one shot, papar Gilbert, tidak akan mampu membuat Jakarta menjadi “hijau”. Menurutnya, hanya program transportasi massal dan berkelanjutan yang bisa. Harga “hijau” untuk kegiatan ini tidak rasional dan tidak wajar.[man]

Pos terkait