Ini Sepak Terjang Penyidik KPK yang Memeras Wali Kota Tanjungbalai

  • Whatsapp
Ini Sepak Terjang Penyidik KPK yang Memeras Wali Kota Tanjungbalai
Ilustrasi Penyidik KPK

Jakarta, Monitorindonesia.com – Divisi Provam Mabes Polri bersama tim Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berhasil menangkap seorang perwira Polri yang bertugas di KPK karena diduga memeras Wali Kota Tanjungbalai, Sumatera Utara senilai Rp 1,5 miliar. Perwira tersebut bernama AKP Stepanus Robin atau AKP SR yang ditangkap atas kasus dugaan pemerasan Walikota Tanjungbalai M Syahrial.

AKP SR yang merupakan penyidik KPK dari unsur Polri dan sudah bertugas sebagai penyidik di komisi antirasuah itu selama 1 tahun 7 bulan. Ketua KPK Firli Bahuri pun menerapkan zero tolerance bagi pegawai atau penyidik KPK dalam menjalankan tugas. AKP SR pun kini diproses hukum karena berupaya memeras Walikota Tanjungbalai yang kasus dalam proses penyelidikan KPK.

Bacaan Lainnya

AKP SR diduga menjanjikan bisa meloloskan M Syahrial dari jeratan hukum yang menderanya. Tentu sebagai imbal baliknya, M Syahril harus memberi uang senilai Rp 1,5 miliar.

Stepanus pernah menjabat sebagai Kapolsek Gemolong, Kabupetn Sragen, Jawa Tengah. Saat itu Dia mendapatkan jabatan tersebut saat masih berpangkat inspektur satu (Iptu).

Kenaikan pangkat dari Iptu menjadi AKP juga didapatkan Stepanus Robin saat masih menjabat Kapolsek Gemolong. Nama Stepanus mulai sering terdengar setelah menjabat Kabag Ops Polres Halmahera Selatan.

AKP SR menggantikan AKP Roy Simangungsong di jabatan itu, yang tersandung setelah aksi demo polisi di sana. Demo ratusan orang polisi yang jarang terjadi itu terkait denga honor pengamanan pemilu.

Sebelum menjabat Kabag Ops, Stepanus sudah di Polda Maluku Utara dengan jabatan sebagai Danki Dalmas Ditsamabta. Keluar surat telegram rahasia Kapolda Maluku Utara dengan STR Nomor: ST-946/1V/KEP/2019/ROSDM tertanggal 29 April 2019, yang isinya mengganti Kabag Ops dari AKP Roy ke AKP Stepanus.

Empat bulan setelah menjabat sebagai Kabag Ops Polres Halmahera Selatan, tepatnya Agustus 2009, AKP Stepanus Robin ditugaskan Mabes Polri sebagai penyidik di KPK.

Peneliti ICW Kurnia Ramadhana menyebut pemerasan itu menjadikan KPK kini berada di ambang batas kepercayaan publik. Hal ini tidak terlepas dari sejumlah skandal di internal KPK belakangan ini.

“Mulai dari pencurian barang bukti, gagal menggeledah, enggan meringkus buronan Harun Masiku, hilangnya nama politisi dalam surat dakwaan, sampai dugaan pemerasan kepala daerah,” katanya.[man]

Pos terkait