Kasus Rapid Tes Bekas, Polisi Tetapkan Bos Kimia Farma Tersangka

  • Whatsapp
alat-antigen-bekas-bandara-kualanamu
TUmpukan alat tes antigen bekas yang ditemukan di Bandara Kalanamu.

Medan, Monitorindonesia.com – Lima petugas Kimia Farma yang diperiksa akibat menggunakan alat rapid test antigen bekas di Bandara Kualanamu, Sumatera Utara ditetapkan sebagai tersangka.

“Sudah tetapkan lima orang jadi tersangka,” ujar Kapolda Sumatera Utara, Irjen Panca Putra Simanuntak di Medan, Kamis (29/4/2021).

Bacaan Lainnya

Mereka yang ditetapkan tersangka yakni pertama Business Manager Laboratorium Kimia Farma berinisial PM. Ia yang menyuruh melakukan penggunaan cutton buds swab antigen bekas.

Tersangka kedua adalah SR, kurir Laboratorium Kimia Farma. Ia berperan sebagai pengangkut Cutton Buds Swab Antigen bekas dari Kualanamu ke Lab Kimia Farma Medan untuk dicuci dan dikemas ulang dan dibawa lagi ke Lab Kimia Farma Kualanamu.

Ketiga adalah DJ adalah Customer Service di Laboratorium Klinik Kimia Farma. Ke epmat adalah M, bagian Admin Lab Kimia Farma dan R bagian Admin hasil Swab.

Para tersangka dijerat Pasal 98 ayat (3) junto Pasal 196 UU 36/2009 tentang Kesehatan dan/atau Pasal 8 huruf (b), (d) dan (e) juncto Pasal 62 ayat (1) UU 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Sebelumnya diberitakan, Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Martin Manurung mengaku geram dengan perbuatan petugas PT Kimia Farma Diagnostik. Martin juga meminta Kementerian BUMN untuk ikut mengawasi dan terlibat dalam proses evaluasi yang dilakukan PT Kimia Farma secara internal.

“Evaluasi yang dilakukan Kimia Farma harus dikawal oleh Kementerian BUMN. Harus terang dan jelas. Karena mungkin saja ini tidak hanya terjadi di Bandara Kualanamu,” kata Martin Manurung, Kamis (29/4/2021).

Politisi Nasdem ini juga meminta polisi menindak tegas dan mengusut tuntas kasus tersebut. “Kasus ini harus diusut tuntas. Sejak kapan dilakukan, dan siapa saja pelakunya. Mereka harus diberi hukuman berat,” tegasnya.

Dia mengatakan, peristiwa penggunaan alat test bekas dalam pelayanan rapid tes antigen dapat menciptakan ketidakpercayaan publik terhadap anak perusahaan BUMN di bidang kesehatan itu.
Ia mengingatkan Kementerian BUMN agar bergerak cepat dalam melakukan evaluasi sebelum dampak dari kasus ini semakin meluas.

“Karena ini dapat mengakibatkan public distrust atau ketidakpercayaan publik kepada BUMN. BUMN itu seharusnya menjadi lembaga yang terpercaya dalam penanggulangan dan pencegahan penyebaran virus Covid-19,” ujar Martin.

Sebelumnya, Subdit IV Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) Direktorat Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Polda Sumut) menggerebek lokasi terjadinya dugaan pelanggaran UU Tentang Kesehatan di Bandara Internasional Kualanamu Sumatera Utara, pada Selasa (27/04/2021) sore,

Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda Sumut Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Hadi Wahyudi mengatakan alasan penggerebekan, yakni karena ada dugaan penyalahgunaan alat rapid test antigen di lokasi layanan tersebut.

“Terkait dengan dugaan daur ulang alat kesehatan yang digunakan untuk rapid test antigen,” kata Hadi.

Direktur Utama PT Kimia Farma Diagnostika Adil Fadhilah Bulqini mengatakan, pihaknya mendukung langkah kepolisian mengusut tuntas kasus tersebut.[man]

 

Pos terkait