Kejagung Kembali Periksa 3 Saksi, untuk Melengkapi 9 Berkas Tersangka Kasus Asabri

  • Whatsapp
Kejagung Periksa 3 Saksi Kasus Asabri
Melengkapi 9 Berkas Tersangka Kasus Asabri

Monitorindonesia.com – Tim Jaksa Penyidik Pidana Khusus Kejaksaan Agung (Pidsus Kejagung), masih melengkapi 9 berkas tersangka kasus dugaan korupsi pengelolaan keuangan dan dana investasi pada PT Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia atau PT Asabri (Persero), dengan kembali memeriksa tiga saksi. Mereka adalah MAY selaku Direktur Utama PT. Anugerah Sekuritas, R selaku General Manager (GM) Finance PT. Hanson International dan AA selaku Head Compliance PT MNC Sekuritas.

Demikian disampaikan Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung, Leonard Eben Ezer Simanjuntak dalam keterangan persnya di Gedung Kejagung, Jakarta pada Senin (3/5/2021).

Bacaan Lainnya

Dijelaskan Leonard, pemeriksaan saksi dilakukan untuk memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri guna menemukan fakta hukum tentang tindak pidana korupsi.

Sebelumnya, penyidik menyerahkan berkas 9 tersangka kepada Jaksa Penuntut Umum untuk diteliti. Jaksa Peneliti (Jaksa P.16) akan meneliti kelengkapan 9 berkas perkara tersebut, baik mengenai kelengkapan syarat formal maupun kelengkapan syarat materiil. Tim Jaksa Peneliti dari Direktorat Penuntutan pada Jampidsus Kejagung akan meneliti berkas 9 tersangka perkara Asabri tersebut dalam jangka waktu 14 hari.

Penelitian berkas perkara tahap pertama ini, lanjut Leo, difokuskan pada kelengkapan syarat formal dan kelengkapan syarat materiil dari berkas perkara dimaksud.

“Jika jaksa peneliti atau penuntut umum berpendapat hasil penyidikan masih kurang lengkap, akan mengembalikan berkas perkara disertai petunjuk untuk dilengkapi oleh penyidik,” teramgmya.

Adapun kronologinya, yakni dalam kurun waktu tahun 2012 sampai dengan tahun 2019, PT Asabri (Persero) telah melakukan penempatan investasi dalam bentuk pembelian saham maupun produk Reksa Dana kepada pihak-pihak tertentu. Penempatan investasi ini dilakukan melalui sejumlah nominee yang terafiliasi dengan Bentjok dan Heru Hidayat tanpa disertai dengan analisis fundamental dan analisis teknikal serta hanya dibuat secara formalitas.

Direktur Utama, Direktur Investasi dan Keuangan, Kepala Divisi Investasi sebagai pejabat yang bertanggung jawab di PT Asabri (Persero) justru melakukan kerja sama dengan Bentjok dan Heru Hidayat dalam pengelolaan dan penempatan investasi PT Asabri (Persero) dalam bentuk saham dan produk Reksa Dana yang tidak disertai dengan analisis fundamental dan analisis teknikal.

“Investasi tersebut melanggar ketentuan Standar Opersional Prosedur (SOP) dan Pedoman Penempatan Investasi yang berlaku pada PT Asabri (Persero),” ungkap Leo.

Atas dasar hal tersebut, terdapat perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh direktur utama (Dirut), direktur investasi dan keuangan, kepala divisi investasi yang menyetujui penempatan investasi PT Asabri (Persero) tanpa melalui analisis fundamental dan analisis teknikal.

Penempatan investasi tersebut hanya berdasarkan analisa penempatan Reksa Dana yang dibuat secara formalitas, bersama-sama dengan Bentjok selaku Direktur PT Hanson Internasional, Heru Hidayat selaku Direktur PT Trada Alam Minera dan Direktur PT Maxima Integra, Lukman Purnomo (LP) selaku Direktur PT Eureka Prima Jakarta Tbk, SJS selaku Konsultan, ES selaku nominee, RL selaku Komisaris Utama PT Fundamental Resourches dan Beneficiary Owner, dan B selaku nominee BTS saham SUGI melalui nominee ES.

Ulah tersebut mengakibatkan adanya penyimpangan dalam investasi saham dan Reksa Dana PT Asabri dan mengakibatkan kerugian sebesar Rp23,7 triliun lebih. (Ery)

Pos terkait