Kepolisian Sengaja Meloloskan Pemudik dari Pos Penyekatan

  • Whatsapp
Kepolisian Sengaja Meloloskan Pemudik dari Pos Penyekatan

Monitorindonesia.com -Larangan pemerintah untuk tidak mudik pada hari raya Idul Fitri tahun 2021 ini ternyata tidak diindahkan banyak  masyarakat, bahkan nekad menerobos pos penyekatan.  Seperti yang terjadi di pos penyekatan Kedungwaringin, perbatasan Kabupaten Bekasi – Karawang pada Senin (10/5) malam lalu.

Kepolisian mengaku sangat kesulitan mencegah banyaknya warga yang mau pulang kampung. Untuk menghindari penumpukan massa sehingga sengaja  membiarkan pemudik lolos tanpa pemeriksaan.

Bacaan Lainnya

Para pemudik yang diperkirakan ribuan orang itu ngotot untuk mudik ke kampung halamannya banyak tidak taat prokes. Berkerumun sangat jelas, para pemudik yang mayoritas mengindahkan protokol kesehatan, pakai masker, jaga jarak dan mencuci tangan.

Lama bersitegang dengan aparat, sebagian para pemudik mematikan mesin kendaraanya, sehingga menimbulkan kemacetan sangat paran, sudah hampir satu kilo meter. Jumlah aparat dengan para pemudik yang menggunakan kendaraan roda dua dan empat sangat tidak seimbang.

Mulai satu persatu mesin dihidupkan dan pemudik mencoba menerobos penyekatan aparat. Bahkan empat orang diketahui sengaja memprovokasi para pemudik agar bergerak menerobos penyekatan dengan paksa.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan kepolisian Kepolisian pun pasrah melihat ribuan pemudik meloloskan diri dari penyekatan tanpa mematuhi protokol kesehatan, bahkan diduga tanpa di tes swab. Hal ini kepolisian terpaksa membuka penyekatan lantaran pemudik makin menumpuk dan antrian panjang sampai 1 km.

Melihat kejadian tersebut aparat terutama pihak kepolisian mengevaluasi penyekatan dengan menambah personilnya.  Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Metro Jaya Kombes Sambodo Purnomo Yogo mengakui kesulitan  membendung animo masyarakat yang hendak berlebaran dan bertemu sanak famili di kampung halaman.

“Personil sudah kita tambahkan, di pos penyekatan sudah ditambah ya, tetapi memang begini, kan, volumenya luar biasa,” kata Sambodo beberapa waktu lalu  Rabu (12/5/2021).

Selain masyarakat masih banyak yang belum sadar, menurut Sambodo, para pemudik melakukan segala cara untuk sampai ke tempat tujuan dan memaksa hingga menyebabkan kerumunan di pos-pos penyekatan.

“Ketika kita melaksanakan penyekatan, banyak masyarakat yang tetap memaksa untuk bisa mudik dan lolos dari penyekatan tersebut, mereka juga tidak mau kita arahkan putar balik sehingga kemudian menimbulkan dan membuat kerumunan,” ujar Sambodo.

Sehingga kata Sambodo, pihaknya dengan terpaksa melakukan diskresi untuk meloloskan para pemudik di titik penyekatan Kedungwaringin, perbatasan Kabupaten Bekasi- Karawang.

“Hal tersebut dilakukan untuk mengurai penumpukan dan kerumunan para pemudik di satu lokasi. Justru malah berbahaya bagi kesehatan masyarakat itu sendiri. Lagi pula ada para pemudik yang membawa anak-anak dan segala macamnya,” ucapnya.

“Oleh sebab itu, kami melakukan diskresi kepolisian, untuk kemudian secara bertahap membuka penyekatan untuk kemudian mereka bisa lolos hanya sekadar untuk memecah kerumunan,” sambungnya.

Meski demikian, Dirlantas memastikan bahwa dengan membuka pos penyekatan di Kedungwaringin, para pemudik juga akan tetap menemui pos penyekatan berikutnya di Tanjung Pura, Karawang yang berjarak 1 kilometer.

“Ke kota mana pun ketika para pemudik itu masuk ke kota tertentu itu biasanya ada penyekatan, itulah sebabnya kita melaksanakan penyekatan berlapis dengan 381 titik di Pulau Jawa. Ini yang kita lakukan,” jelas Sambodo.

Lebih lanjut, Sambodo menyebut, seberapa besar kekuatan dan jumlah personelnya tak akan cukup mengawasi dan mengimbau warga untuk tidak melakukan mudik.

Intinya seberapa besar pasukan pun yang kita butuhkan (tidak bisa mencegah), justru (dari) kesadaran kolektif masyarakat untuk sama-sama mau mematuhi anjuran pemerintah untuk tidak mudik,” tutur Sambodo.

“Karena tidak mungkin, kan, kita paksa dorong karena mereka bukan unjuk rasa, tetapi malam itu kita tetap persuasif dan humanis,” pungkasnya.

Melihat situasi ini, bahwa masyarakat masih banyak yang tidak perduli atau meremehkan covid-19 dan mengindahkan protokol kesehatan. Bahkan dengan situasi itu pemudik  menggambarkan tidak taat pada anjuran pemerintah yang melarang mudik.

Padahal larangan  pemerintah tersebut sangat jelas untuk menyelamatkan masyarakat agar terhindar dari virus mematikan dan terjadi klaster baru yang bisa menimbulkan gelombang kedua penularan Covid-19 yang lebih parah. Semoga tidak terjadi lagi peristiwa seperti ini pasca pengamanan arus balik. (tak)

Pos terkait