Kesenjangan Sosial Akibat Covid-19 Memicu Wabah AIDS

  • Whatsapp
Kesenjangan Sosial Akibat Covid-19 Memicu Wabah AIDS

Monitorindonesia.com – Kepala UNAIDS mengatakan Selasa (08/06/2021) bahwa kesenjangan sosial merupakan faktor utama wabah HIV/IDS seperti Covid-19.

“Kesenjangan kekuasaan, status, hak dan suara mendorong pandemic HIV,” ungkap Winnie Byanyima, selaku Eksekutif Direktur UNAIDS. “Kesenjangan bisa mematikan,” tambahnya.

Bacaan Lainnya

Byanyima mengatakan melalui pertemuan petinggi majelis umum PBB bahwa setiap negara harus mengakhiri kesenjangan yang mengabadikan HIV/AIDS jika mereka hendak mencapai target mereka untuk menyelesaikan wabah sebelum 2030.

“Hari ini kita mempertegas, tujuan ambisius untuk mencapai 95% dari mereka yang membutuhkan perawatan HIV dan pencegahannya,” dia mengatakan.

“Untuk mencapai titik itu, kita harus memperhatikan kembali layanan untuk para penderita HIV supaya mudah diakses dan disediakan di sekitar tempat tinggal para penduduk.”

Byanyima mengatakan pandemi Covid-19 telah menunjukkan bagaimana keinginan politik bisa mendorong para ilmuwan dan jenir motivasi yang sama diperlukan untuk mendorong perawatan, pencegahan, kepedulian dan vaksin bagi HIV/AIDS.

Utusan dari majelis perdamaian PBB, Chalize Theron membahas pertemuan tersebut dalam sebuah pesan video Selasa (08/06/2021). Artis Afrika Selatan tersebut mengatakan bahwa sering kali orang –orang yang terbilang paling rentan sulit mendapat akses untuk layanan yang mereka butuhkan.

“Karena faktanya sampai sekarang adalah apakah anda hidup atau mati karena AIDS masih sering ditentukan oleh anda siapa, siapa yang anda cintai, dan dimana anda tinggal.” Tutur Theron.

Negara-negara anggota PBB mengadopsi deklarasi politik dalam mengukur peningkatan untuk mencapai tujuan 2030, tetapi masih banyak kontraversi.

Sesaat sebelum adopsi sistem tersebut, perwakilan Rusia mencoba mengajukan kepada majelis untuk menyetujui tiga amandemen yang seharusnya menghapusakn bahasa dalam menghargai HAM bagi seseorang yang hidup dengan HIV/AIDS dan mengakhiri diskriminasi dan pembatasan hukum berdasarkan status HIV seseorang.

Amandemen tersebut sepenuhnya dipilih untuk tidak diberlakukan dan draf asli yang merupakan hasil dari negosiasi panjang dan kompromi antar anggota yang diadopsi dengan 165 suara pendukung, empat negara menolak dan tidak ada negara yang tidak memilih. Belarusia, Nikaragua dan Syria bergabung dengan Rusia menolak deklarasi tersebut.[Yohana RJ]

Sumber : VOA

Pos terkait