KMI: Kalau Saja Semua Pejabat Negara Seperti Kapolri, Dijamin Masyarakat Nyaman

  • Whatsapp
100-hari-jabat-kapolri-jenderal-sigit
Ketua KMI,. Edi Homaidi.

Monitorindonesia.com -Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo dalam Rapat Kerja Teknis (Rakernis) Propam Polri yang digelar pada Selasa kemarin (13/4/2021), mengungkapkan kalau dirinya kerap mendapat aduan dari masyarakat langsung melalui pesan di nomor Whatsapp-nya. Keluhan maupun aduan masyarakat itu pun selalu diresponnya dengan meneruskan ke satuan kerja terkait.

Mendengar kebiasaan kerap dilakukan mantan Kabareskrim Polri tersebut, Ketua Kaukus Muda Indonesia (KMI), Edi Homaidi melalui keterangan pers tertulisnya, Rabu (14/4/2021) memberi respon postifif.

Pasalnya, menurut Edi Homaidi, sangat jarang seorang pejabat negara ditengah kesibukannya mau dan menyempatkan diri untuk membaca setiap aduan dari masyarakat yang masuk ke whatsapp maupun nomor telponnya.

“Menurut saya, apa yang kerap dilakukan pak Sigit itu patut dicontoh bawahannya, juga pejabat negara lainnya. Apalagi kemarin saat menyampaikan sambutan dalam Rakernis Propam Polri, pak Sigit sempat menyindir para Kapolda, Kapolres, hingga Kasatker yang tidak membaca pesan berupa aduan dari masyarakat,” sebutnya.

Dengan mendengar keluhan maupun aduan dari masyarakat, lanjut eksponen Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) itu, maka seorang pejabat bisa mengambil langkah-langkah yang akan membuat masyarakat menjadi nyaman dan merasa diayomi. Selama ini, banyak pejabat yang mengabaikan aduan maupun keluhan masyakakat, sehingga berujung pada aksi protes seperti unjuk rasa.

“Kalau saja seluruh pejabat dinegeri ini mau meluangkan waktunya sedikit seperti yang kerap dilakukan Kapolri Listyo Sigit, saya yakin aksi protes maupun ujuk rasa bisa diredam,” pungknas Edi Homaidi.

Sebelumnya, Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo mengatakan hingga saat ini kerap menerima aduan masyarakat dari pesan whatsapp-nya. Bahkan meski tengah disibukan dengan padatnya jadwal, dirinya tetap merespons pesan WhatsApp dari nomor tak dikenal sekalipun.

“Saya nggak kenal, itu WA dari siapa, saya buka dan kemudian saya teruskan. Kadang saya jawab, saya teruskan. Jadi, kalau saya yang jadi Kapolri masih mau menerima dan membaca pengaduan-pengaduan tersebut, saya nggak bisa bayangkan kalau seorang kasatker, seorang kapolda, kapolres, rekan-rekan yang dinas di Propam tidak mau membaca,” ucapnya.

Sigit mengatakan menjadikan jumlah aduan masyarakat yang masuk ke ponselnya sebagai tolok ukur efektivitas aplikasi menampung komplain online. Jika masih banyak masyarakat yang mengadu kepadanya, aplikasi tersebut belum efektif.

“Kalau angka masih tinggi, tingkat kepuasan masyarakat masih belum dirasakan, atau masih banyak laporan yang masuk ke saya, artinya mekanisme e-komplain belum berjalan dengan baik. Itu saja ukurannya. Jadi tolong, dalam satu tahun pertama ini, pasti akan ada peningkatan, tapi itu wajar. Namun tolong rekan-rekan di-mapping, kemudian dilakukan respons cepat terhadap pengaduan-pengaduan yang masuk ke kita,” tutup Sigit. (Ery)

Pos terkait