BREAKINGNEWS

Pameran Tunggal Chryshnanda Dwilaksana, “MICEK MBUDEK” dan Suara Kritik Sosial dari Kanvas

Pameran Tunggal Chryshnanda Dwilaksana, “MICEK MBUDEK” dan Suara Kritik Sosial dari Kanvas
Chryshnanda Dwilaksana kembali menggelar pameran tunggal lukisan bertajuk “MICEK MBUDEK, Pokok-e Yang Pekok-e” di Balai Budaya Jakarta. Melalui karya-karya abstrak ekspresionisnya, CDL menghadirkan kritik sosial dan refleksi tentang sikap masyarakat yang memilih pura-pura tidak melihat dan tidak mendengar realitas di sekitarnya.

Jakarta, MI - Chryshnanda Dwilaksana kembali menggelar pameran tunggal lukisan bertajuk “MICEK MBUDEK, Pokok-e Yang Pekok-e” di Balai Budaya, Jalan Gereja Theresia No. 47, Jakarta Pusat.

Pameran yang menampilkan puluhan karya tersebut berlangsung selama sepekan dan resmi dibuka pada Jumat (8/5/2026) pukul 16.00 WIB.

Dalam dunia seni rupa, Chryshnanda dikenal lewat inisial CDL yang kerap tertera di setiap karya lukisnya. Ia tercatat telah puluhan kali menggelar pameran tunggal.

Salah satu yang cukup dikenal ialah pameran bertajuk “Mbajing” di Ubud, Bali, beberapa tahun lalu. Selain itu, ia juga aktif mengikuti pameran bersama sejumlah perupa di berbagai kota seperti Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta.

Di tengah aktivitasnya sebagai anggota Polri dan pengajar di PTIK, Chryshnanda tetap konsisten menekuni dunia seni lukis yang telah digemarinya sejak kecil.

Kegemaran menggambar dan melukis bahkan sempat membawanya bercita-cita masuk Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) di Yogyakarta, meski keinginan itu urung terwujud karena keterbatasan ekonomi keluarga saat itu.

Tak hanya aktif di dunia kepolisian, Chryshnanda juga dikenal produktif menulis di media sosial. Ia kerap membagikan gagasan tentang ilmu kepolisian, seni, budaya, hingga fenomena sosial.

Karakter tersebut juga tercermin dalam karya-karya lukisnya yang sarat pesan, refleksi, dan kritik sosial.

Karya-karya CDL banyak bergerak dalam corak abstrak ekspresionis. Sapuan kuas yang spontan, eksploratif, dan emosional menjadi ciri khas yang menonjol dalam setiap lukisannya.

chryshnanda-dwilaksana-kembali-menggelar-pameran-tunggal-lukisan-bertajuk-“micek-mbudek,-pokok-e-yang-pekok-e”-di-balai-budaya-jakarta.-melalui-karya-karya-abstrak-ekspresionisnya,-cdl-menghadirkan-kritik-sosial-dan-refleksi-tentang-sikap-masyarakat-yang-memilih-pura-pura-tidak-melihat-dan-tidak-mendengar-realitas-di-sekitarnya.

Dengan media akrilik di atas kanvas, ia menghadirkan ekspresi visual yang disebut sebagai bentuk “memerdekakan suara jiwa”.

Tema kritik sosial menjadi benang merah dalam banyak karya yang dipamerkan. Meski tampil abstrak, lukisan-lukisan CDL tetap menyiratkan respons terhadap berbagai fenomena sosial di masyarakat.

Menariknya, ia kerap menyisipkan figur wajah perempuan dalam sejumlah karya, yang membuka ruang tafsir luas bagi penikmat seni.

Secara teknis, gaya CDL dikenal melalui sapuan kuas besar yang ekspresif dipadukan efek “dleweran” cat yang memberi kesan liar namun terkontrol.

Pendekatan tersebut menjadi pengalaman artistik personal yang kuat sekaligus membentuk identitas visualnya.

Tema “MICEK MBUDEK, Pokok-e Yang Pekok-e” juga memuat pesan simbolik. “Micek” dimaknai sebagai melihat tetapi pura-pura tidak melihat, sedangkan “Mbudek” berarti mendengar tetapi pura-pura tidak mendengar.

Adapun “Pokok-e Yang Pekok-e” menggambarkan sikap abai dan ketidakpedulian terhadap realitas sosial yang terjadi di sekitar.

Tema tersebut dinilai sangat kontekstual dengan situasi sosial saat ini.

Namun pesan yang disampaikan tidak hadir dalam bentuk penghakiman, melainkan sebagai ruang dialog yang dibangun melalui bahasa seni rupa.

Chryshnanda mengaku menempuh proses berkesenian secara otodidak.

Baginya, menjadi perupa tidak harus lahir dari pendidikan formal seni rupa. Ketajaman gagasan, pengalaman artistik, dan konsistensi berkarya dapat tumbuh dari proses belajar yang dijalani secara mandiri.

Produktivitasnya pun terbilang tinggi. Ribuan karya disebut tersimpan rapi di kediamannya di kawasan Mampang Prapatan IX, Jakarta Selatan.

Sebagian lainnya dipajang di dinding rumahnya. Bahkan di sela aktivitas pekerjaan, ia tetap menyempatkan diri membuat sketsa dan mencatat ide visual.

Karikaturis dan pengamat seni rupa asal Kasongan, Bantul, Yogyakarta, Gatot Eko Cahyono, menilai karya-karya CDL memiliki keberanian dalam merespons fenomena sosial melalui pendekatan abstrak ekspresionis yang khas.

“Selamat berpameran CDL,” tulis Gatot.

Topik:

Adelio Pratama

Penulis

Video Terbaru

Pameran Tunggal Chryshnanda Dwilaksana, “MICEK MBUDEK” dan S | Monitor Indonesia