Jakarta, MI– Aksi demonstrasi menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang digelar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jakarta Pusat-Utara (Pustara) di kawasan Cikini Raya, Jakarta Pusat, dipastikan berlanjut pada Kamis (11/6/2026) sore.
Meski aksi pada Rabu malam telah dibubarkan aparat kepolisian sekitar pukul 21.32 WIB, massa HMI menegaskan tidak akan menghentikan perlawanan terhadap kebijakan yang dinilai memberatkan masyarakat.
Ketua HMI Jakarta Pusat-Utara, Amiruddin Emon, mengatakan demonstrasi lanjutan akan kembali dipusatkan di Jalan Cikini Raya, lokasi yang sebelumnya menjadi titik aksi protes kenaikan harga BBM jenis Pertamax.
"Aksi tadi sebagai respons spontan terhadap dinamika politik kebangsaan kita hari ini, dan pemantiknya memang karena adanya kenaikan BBM itu," ujar Amiruddin.
Menurut dia, sekitar 30 peserta terlibat dalam aksi yang berlangsung pada Rabu malam. Demonstrasi sempat diwarnai ketegangan dan aksi saling dorong dengan aparat saat proses pembubaran berlangsung.
Selain memprotes kenaikan harga Pertamax yang kini mencapai Rp16.250 per liter, massa juga membawa sejumlah tuntutan lain. Di antaranya meminta transparansi Program Makan Bergizi Gratis (MBG), menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah, serta mengkritisi berbagai program pemerintah yang dianggap rawan praktik korupsi.
HMI menilai kenaikan harga BBM berpotensi memberikan efek berantai terhadap biaya hidup masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah yang saat ini juga menghadapi tekanan ekonomi akibat melemahnya nilai tukar rupiah.
Amiruddin mengakui aksi pada Rabu malam digelar tanpa pemberitahuan kepada kepolisian karena berlangsung secara spontan setelah kegiatan belajar organisasi. Menurutnya, pembubaran dilakukan aparat tak lama setelah massa memulai orasi.
Meski demikian, HMI memastikan aksi tidak akan berhenti. Demonstrasi lanjutan akan digelar sore ini dengan harapan dapat menjangkau lebih banyak perhatian publik terhadap isu kenaikan BBM dan kondisi ekonomi nasional.
Sebelumnya, aksi unjuk rasa di Cikini sempat memicu kemacetan lalu lintas dan diwarnai pembakaran ban sebagai bentuk protes terhadap kebijakan kenaikan harga Pertamax. Aparat kepolisian kemudian membubarkan massa dan mengamankan situasi di lokasi.**

