Momen Kebangkitan Nasional, Irman Gusman: Kebersamaan Solusi Terbaik Atasi Krisis

  • Whatsapp
Momen Kebangkitan Nasional, Irman Gusman: Kebersamaan Solusi Terbaik Atasi Krisis
Mantan Ketua DPD RI, Irman Gusman.

Monitorindonesia.com – Ketua DPD RI periode 2009-2016, Irman Gusman menilai kalau saat ini bangsa Indonesia menghadapi berbagai dimensi krisis, seperti krisis ekonomi, krisis sosial, krisis hukum, krisis kepercayaan, krisis politik identitas, dan krisis kebudayaan. Ditambah lagi saat ini masyarakat terpecah belah dan teradu domba.

“Yang kita butuhkan adalah kebersamaan, kekompakan, solidaritas sosial, kedermawanan, kegotongroyongan dalam mencari solusi terbaik untuk mengatasi krisis itu,” ucap Irman saat menyampaikan Sekapur Sirih di acara peluncuran buku karyanya yang berjudul “Menyibak Kebenaran: Drama Hukum, Jejak Langkah, dan Gagasan Irman Gusman” dibilangan Senayan, Jakarta, Kamis (20/5/2021).

Peluncuran buku ini diadakan bersamaan dengan perayaan Hari Kebangkitan Nasional yang diselenggarakan oleh Korps Alumi Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI).

Turut memberikan testimoni dalam acara peluncuran buku tersebut adalah  Ketua MPR RI Bambang Soesatyo, Ketua DPR RI Puan Maharani, Ketua DPD RI LaNyalla Mahmud Mattalitti, mantan Presiden  Megawati Soekarnoputri, mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, mantan Ketua DPR Akbar Tanjung, Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah, Gubernur DKI Anies Baswedan, Senator GKR Hemas, mantan Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah, Ketua Umum PB HMI Raihan Ariatama, dan Ketua Umum DPP  KNPI Haris Pertama.

Sementara itu, pembicara utama dalam acara dimaksud adalah Ketua MPR RI, Ketua DPD RI dan Wakil Menteri Hukum dan HAM Prof. Dr. Eddy OS Hiariej, SH, M.Hum.

Melanjutkan sambutannya, Irman Gusman mengajak semua pihak untuk bangkit dari cara berpikir yang selama ini melemahkan sendi-sendi bangsa. Apalagi saat ini masayrakat cenderung mempercayai hal yang melemahkan demokrasi pancasila, dan cenderung ke demokrasi liberal. 

“Sudah saatnya perlu menguatkan demokrasi Pancasila kembali. Tatkala demokrasi ekonomi diabaikan, maka kondisi ekonomi tidak akan lebih baik,” imbuhnya.

Sementara buku yang diluncurkan tersebut, merupakan jilid ke tiga dari serial eksaminasi terhadap vonis Pengadilan Negeri Jakarta Pusat terhadap dirinya, yang akhirnya dibatalkan oleh Mahkamah Agung (MA). Di buku terbaru ini, berisi laporan pandangan mata oleh penulis buku yaitu Pitan Daslani, wartawan senior yang bertugas sebagai Staf Ahli Ketua DPD RI untuk Urusan Hubungan Luar Negeri, semasa Irman Gusman, Mohammad Saleh, Oesman Sapta Odang dan LaNyalla Mahmud Mattalitti menjadi Ketua DPD RI.

Dalam buku tersebut Pitan Daslani menjelaskan tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelum, pada saat, dan setelah Irman Gusman ditangkap oleh aparat KPK pada 16 September 2016. Rangkaian informasi dalam buku tersebut termasuk banyak hal baru yang belum pernah diberitakan di media massa tetapi mencakup kejadian-kejadian penting yang menerangkan apa sebabnya Irman Gusman dijatuhkan dari posisi sebagai Ketua DPD RI dan siapa saja yang berkepentingan untuk menjatuhkan dia dari posisi RI-7 itu.

Laporan investigasi dalam buku ini juga mencakup dugaan persekongkolan antara aparat KPK dan seorang saudagar gula untuk menjerat Irman Gusman dengan tuduhan menerima suap.

Buku setebal 420 halaman itu juga berisi penjelasan guru besar tentang teror dan intimidasi yang dilakukan oleh aparat KPK terhadap hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat ketika suatu perkara korupsi sedang disidangkan. Juga cara penegakan hukum yang menghalangi keadilan dalam perkara Irman Gusman dijelaskan secara rinci dalam buku ini, termasuk upaya praperadilan yang digugurkan di tengah jalan serta upaya aparat KPK untuk mengintimidasi istri Irman Gusman yaitu Liestyana Gusman agar membenci dan manjauhi suaminya ketika Irman sedang diperiksa.

Menurut penulis buku, pembohongan publik melalui media massa yang dilakukan untuk mendiskreditkan Irman Gusman dan keluarganya juga diuraikannya secara gamblang dalam buku ini. Buku ini juga berisi rekam jejak Irman Gusman baik di dalam maupun di luar negeri, khususnya untuk menarik investasi asing masuk ke Indonesia. (Ery)

Pos terkait