Jakarta, MI - Di tengah kebijakan efisiensi anggaran yang terus digencarkan Presiden Prabowo Subianto sejak 2025, sorotan tajam justru mengarah ke lingkaran terdekat kekuasaan.
Perayaan ulang tahun Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dinilai menjadi ironi di saat pemerintah meminta seluruh kementerian dan lembaga menahan belanja serta memangkas pengeluaran yang tidak prioritas.
Pengamat kebijakan publik Fernando Emas kepada Monitorindonesia.com, Selasa (21/4/2026), menegaskan bahwa kebijakan efisiensi anggaran seharusnya ditaati tanpa pengecualian, terutama oleh para pembantu presiden dan orang-orang yang berada di sekitar pusat kekuasaan. Menurutnya, teladan justru harus dimulai dari lingkaran dalam pemerintahan, bukan sebaliknya.
“Penerapan efisiensi anggaran yang diberlakukan Presiden Prabowo sejak tahun lalu wajib ditaati seluruh jajaran. Terutama mereka yang berada paling dekat dengan Presiden. Kalau orang dalam sendiri abai, maka publik akan melihat kebijakan ini hanya slogan,” tegas Fernando yang juga Direktur Rumah Politik Indonesia (RPI).
Ia menilai perayaan ulang tahun Teddy yang disebut berlangsung di hotel, pesawat hingga area Kantor Sekretariat Negara menimbulkan kesan buruk di tengah situasi pengetatan anggaran nasional. Menurut Fernando, tindakan tersebut dapat dibaca sebagai bentuk pembangkangan terhadap arahan kepala negara.
“Ketika pemerintah sedang meminta semua pihak berhemat secara ketat, lalu ada pesta yang dipamerkan di hotel, pesawat, sampai kantor negara, itu bukan sekadar tidak sensitif. Itu bisa dianggap pembangkangan terbuka terhadap kebijakan Presiden sendiri,” ujarnya menohok.
Fernando membandingkan sikap tersebut dengan perayaan ulang tahun Titiek Soeharto yang disebut berlangsung sederhana di gedung DPR. Ia menilai pejabat negara seharusnya menunjukkan empati kepada rakyat, bukan mempertontonkan kemewahan di tengah seruan penghematan.
“Seharusnya Teddy mencontoh Ibu Titiek Soeharto yang merayakan secara sederhana di DPR. Jabatan publik menuntut keteladanan, bukan pamer fasilitas,” katanya.
Lebih jauh, Fernando meminta Teddy menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat yang merasa tersinggung atas ekspos perayaan tersebut. Menurutnya, polemik ini berpotensi menggerus kepercayaan publik terhadap pemerintahan Prabowo bila tidak disikapi serius.
“Saya berharap Teddy meminta maaf kepada rakyat Indonesia. Jangan sampai publik menilai kebijakan efisiensi hanya omon-omon, tajam ke kementerian lain tetapi tumpul kepada orang dekat kekuasaan. Jika dibiarkan, kepercayaan publik kepada Presiden bisa ikut runtuh,” pungkasnya.

