Jakarta, MI– PT Associated Mission Aviation (AMA) menyampaikan duka mendalam atas tewasnya pilot berkebangsaan Amerika Serikat, Nicholas Francis Goselin, dalam serangan bersenjata yang disertai pembakaran pesawat di Lapangan Terbang Balinggama, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan.
Direktur PT AMA, Bob Kayadu, menyebut insiden tersebut menjadi pukulan terberat bagi maskapai yang selama puluhan tahun melayani penerbangan kemanusiaan di wilayah pedalaman Papua.
"Kalau kecelakaan itu biasa. Tetapi kalau pembakaran dan juga pembunuhan, itu sangat tidak berperikemanusiaan," kata Bob.
Di tengah klaim Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang menuding pesawat AMA mengangkut personel dan logistik militer, Bob menegaskan tuduhan tersebut tidak benar. Menurutnya, setiap penerbangan memiliki dokumen manifes yang dapat diperiksa kapan saja.
"Bisa dicek langsung di manifes. Tidak pernah kami membawa barang-barang militer," tegasnya.
Ia menjelaskan, sesuai standar operasional perusahaan, AMA menolak segala bentuk pengangkutan perlengkapan maupun logistik militer. Maskapai, kata Bob, berkomitmen menjaga netralitas dalam menjalankan misi pelayanan kepada masyarakat di wilayah terpencil.
"Sesuai standar operasional AMA dan operation manual, kami menolak, kami tidak menerima, dan tidak mengangkut barang-barang militer," ujarnya.
Bob menambahkan, AMA hadir untuk melayani daerah-daerah yang sulit dijangkau maskapai komersial. Selama ini, pesawat-pesawat AMA mengangkut kebutuhan masyarakat, mulai dari penumpang, bahan pangan, hingga berbagai keperluan pelayanan sosial.
"Kami ada di sini untuk tetap melayani dengan netralitas, tidak memihak kepada siapa pun," katanya.
Ia mengungkapkan rute menuju Balinggama baru dilayani sekitar tiga tahun terakhir melalui program subsidi angkutan udara perintis dari pemerintah. Selama periode tersebut, menurut Bob, tidak pernah terjadi gangguan keamanan terhadap penerbangan AMA.
Kematian Nicholas pun disebut meninggalkan luka mendalam bagi seluruh keluarga besar AMA. Selama 67 tahun beroperasi di Papua, maskapai tersebut belum pernah kehilangan pilot akibat serangan bersenjata.
Untuk sementara, manajemen masih mengkaji kelanjutan operasional penerbangan setelah seluruh proses pemakaman dan penghormatan terakhir kepada Nicholas selesai.
"Untuk sementara waktu belum ada keputusan. Manajemen akan rapat setelah semua kegiatan pengurusan Captain Nick selesai," ujar Bob.
Saat ini AMA memiliki sekitar 16 pilot, termasuk sejumlah pilot asing, yang selama ini bertugas melayani penerbangan kemanusiaan ke berbagai wilayah terpencil di Papua.**
