Jakarta, MI– Kementerian Transmigrasi (Kementrans) mengirim sebanyak 1.476 Patriot Muda melalui Program Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 ke 53 kawasan transmigrasi di seluruh Indonesia.
Langkah ini dilakukan untuk memetakan potensi daerah, mengidentifikasi persoalan masyarakat, serta merumuskan rekomendasi berbasis data guna mempercepat pembangunan dan mendorong lahirnya pusat-pusat ekonomi baru.
Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menegaskan para Patriot Muda tidak sekadar menjalankan penelitian akademik. Mereka ditugaskan terjun langsung ke lapangan untuk memahami kondisi riil masyarakat dan menyusun solusi yang dapat dijadikan dasar penyusunan kebijakan pemerintah.
"Pembangunan tidak bisa dilakukan hanya dari balik meja. Karena itu negara memfasilitasi kehadiran para Patriot agar melihat langsung kondisi masyarakat dan potensi di setiap kawasan transmigrasi," ujar Iftitah saat membuka Pembekalan Tim Ekspedisi Patriot 2026 di Bogor.
Menurutnya, kawasan transmigrasi memiliki potensi ekonomi yang besar, namun juga menghadapi berbagai tantangan yang membutuhkan pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dan inovasi. Oleh sebab itu, generasi muda diharapkan mampu menerjemahkan kemampuan akademiknya menjadi solusi yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
"Pembangunan tidak cukup hanya dibahas di ruang kelas atau ruang rapat. Kita harus hadir, memahami persoalan secara langsung, lalu mencari jalan keluarnya bersama masyarakat," katanya.
Iftitah juga mengingatkan bahwa berbagai persoalan di kawasan transmigrasi telah berlangsung selama puluhan tahun sehingga tidak mungkin diselesaikan dalam waktu singkat. Namun, ia berharap para Patriot menjadi bagian dari proses perubahan yang berkelanjutan.
"Persoalan yang sudah berlangsung puluhan tahun tentu tidak selesai dalam satu atau dua hari. Yang penting kita terus bergerak, terus mencari solusi, dan memastikan pembangunan tetap berjalan," tegasnya.
Program Tim Ekspedisi Patriot merupakan salah satu program unggulan dalam agenda 5T Kementerian Transmigrasi. Hasil kerja para peserta diharapkan tidak berhenti sebagai laporan akademik, tetapi menjadi pijakan lahirnya kebijakan baru, investasi, inovasi, pembukaan lapangan kerja, peningkatan produktivitas kawasan, serta penguatan ekonomi masyarakat di wilayah transmigrasi.**
