Jakarta, MI - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengerahkan satu unit helikopter untuk mendukung penanganan gempa magnitudo 7 di Nusa Tenggara Timur (NTT). Helikopter digunakan untuk mobilisasi logistik, operasional darurat, hingga mendukung proses evakuasi.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto bersama Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno juga dijadwalkan menuju Kabupaten Nagekeo, wilayah yang terdampak gempa, Sabtu (15/8/2026).
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan dukungan udara dibutuhkan karena kondisi geografis NTT yang terdiri dari banyak pulau membuat akses antardaerah tidak mudah.
"BNPB langsung mengerahkan tim penanganan darurat untuk mendukung pemerintah daerah dalam melakukan kaji cepat, penanganan korban, pendataan dampak, serta pemenuhan kebutuhan masyarakat terdampak," ujar Berton dalam keterangan tertulis, Sabtu (15/8/2026).
BNPB juga mengirimkan dukungan logistik dan peralatan. Tim di lapangan masih melakukan pendataan kerusakan sekaligus memastikan kebutuhan warga terdampak terpenuhi.
1 Orang Meninggal, 4 Luka-luka
Berdasarkan data yang telah diperbarui dan divalidasi hingga pukul 08.00 WIB, satu orang meninggal dunia dan empat lainnya mengalami luka-luka.
Korban meninggal merupakan warga Kabupaten Sikka. Sementara korban luka tercatat di Kabupaten Sikka dan Nagekeo.
Sebelumnya, BNPB sempat melaporkan dua korban meninggal. Namun, setelah dilakukan verifikasi dan validasi di lapangan, jumlah tersebut diperbarui menjadi satu orang.
"BNPB menyampaikan permohonan maaf atas perihal ini pada laporan awal dan akan terus memastikan setiap informasi yang disampaikan telah melalui proses verifikasi," ujar BNPB.
Gempa juga membuat sekitar 2.000 warga di Kabupaten Nagekeo melakukan evakuasi mandiri setelah guncangan dan peringatan dini tsunami. Di Kota Bima, satu kepala keluarga atau enam jiwa tercatat terdampak.
Kerusakan sementara yang ditemukan meliputi dua rumah rusak berat, satu rumah rusak sedang, dua rumah rusak ringan, satu gudang Bulog, tiga fasilitas umum rusak ringan, serta enam kantor pemerintahan terdampak.
BNPB menegaskan data tersebut masih sementara dan terus diperbarui bersama BPBD serta unsur terkait.
Peringatan Tsunami Berakhir
Gempa terjadi pada Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58.24 WIB. Pusat gempa berada di laut, sekitar 38 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer.
Guncangan dirasakan di sejumlah wilayah NTT, NTB, hingga Sulawesi Selatan. Di antaranya Nagekeo, Sikka, Manggarai Barat, Kota Bima, Kabupaten Bima, Jeneponto, Kepulauan Selayar, dan Maros.
Gempa sempat memicu peringatan dini tsunami. Namun, berdasarkan hasil pemantauan tinggi muka laut, BMKG tidak lagi menemukan kenaikan air laut signifikan yang membahayakan. Peringatan dini tsunami kemudian dinyatakan berakhir pada pukul 07.31.30 WIB.
BNPB meminta masyarakat tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan dan tidak memasuki bangunan yang mengalami kerusakan atau retak. Warga juga diminta mengikuti arahan pemerintah daerah dan mengandalkan informasi dari sumber resmi.
Di Kabupaten Nagekeo, penanganan masih berlangsung. Kondisi jalan dilaporkan mengalami kemacetan, sementara aliran listrik masih padam.
BNPB terus berkoordinasi dengan BPBD Provinsi NTT, BPBD kabupaten/kota terdampak, BMKG, Basarnas, TNI, Polri, serta kementerian dan lembaga terkait.
Dukungan pemerintah pusat akan terus disalurkan sesuai kebutuhan, terutama untuk penanganan korban, evakuasi, pemenuhan kebutuhan dasar, distribusi logistik dan peralatan, hingga pemulihan masyarakat terdampak.
