Jakarta, MI - Kontingen Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Maluku Utara tak datang ke Jambore Nasional (Jamnas) XII 2026 sekadar untuk berkemah dan mengikuti rangkaian kegiatan kepramukaan. Sebanyak 413 anggota kontingen membawa misi yang jauh lebih besar: menjadikan panggung nasional sebagai etalase budaya, sejarah, pariwisata, dan potensi Maluku Utara.
Pesan itu terlihat jelas sejak pembukaan Jamnas XII sekaligus peringatan Hari Pramuka ke-65 di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata (Buperta) Cibubur, Jakarta Timur, Jumat (14/8/2026). Perhelatan yang berlangsung 13–20 Agustus 2026 tersebut mempertemukan ribuan anggota Pramuka dari berbagai daerah di Indonesia hingga peserta dari negara sahabat.
Bagi Malut, momentum ini menjadi kesempatan strategis untuk memperkenalkan identitas daerah di tengah pergaulan Pramuka nasional dan internasional.
Kontingen Malut diposisikan bukan hanya sebagai peserta, tetapi juga sebagai duta daerah. Mereka membawa cerita tentang Maluku Utara melalui karnaval Jamnas, pertunjukan seni, promosi destinasi wisata, kuliner khas hingga literatur sejarah.

Salah satu agenda yang diproyeksikan menjadi panggung penting adalah penampilan Kwartir Cabang (Kwarcab) Tidore Kepulauan. Pada Minggu malam, 16 Agustus 2026, mereka dijadwalkan membawakan Tarian Gempita Malut.
Pertunjukan tersebut akan menjadi ruang bagi seni tradisional Maluku Utara untuk berbicara di hadapan peserta dari berbagai penjuru Indonesia, termasuk Gugus Depan Perwakilan RI di luar negeri dan Pramuka dari sejumlah negara sahabat.
Ribuan Mata Mengarah ke Cibubur
Jamnas XII tahun ini memiliki skala besar. Sebanyak 19.833 peserta dari 41 kontingen ambil bagian. Mereka berasal dari 35 Kwarda di Indonesia serta sejumlah Gugus Depan Perwakilan RI di luar negeri, seperti Riyadh, Jeddah, Kinabalu, Kairo dan Kuala Lumpur.
Peserta dari Sri Lanka, Mauritius, Australia, Timor Leste, Malaysia, Taiwan dan Brunei Darussalam juga turut hadir.
Jika digabung dengan panitia, pembina pendamping, pimpinan kontingen daerah dan cabang serta unsur pendukung lainnya, jumlah warga perkemahan mendekati 26 ribu orang.
Besarnya jumlah peserta membuat Jamnas bukan sekadar agenda kepramukaan. Bagi Maluku Utara, ini adalah ruang promosi daerah yang potensial sekaligus kesempatan membangun jejaring generasi muda lintas daerah dan negara.
Kesempatan itu kemudian dimanfaatkan melalui stan kontingen Malut.
Usai upacara pembukaan dan peringatan Hari Pramuka sekitar pukul 17.00 WIB, Sekretaris Provinsi (Sekprov) Malut Samsuddin A. Kadir, Ketua DPRD Malut Iqbal Ruray dan Ketua Kwarda Malut Muhammad Abusama meninjau stan tersebut.
Stan Malut berdiri berdampingan dengan stan Banten dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Di tempat itu, identitas Maluku Utara dikemas melalui berbagai materi promosi.
Destinasi wisata ditampilkan melalui baliho dan tayangan video. Kuliner khas seperti kenari dan sagu ikut diperkenalkan. Sejumlah buku tentang Maluku Utara juga dipamerkan, termasuk literatur mengenai sejarah empat kesultanan yang menjadi bagian penting dari perjalanan dan identitas daerah.
Tak hanya mengandalkan materi visual, ratusan anggota kontingen turut menghidupkan suasana. Mengenakan seragam Pramuka lengkap dan membawa tongkat, mereka bergantian menyapa para pejabat dan pengunjung sambil meneriakkan yel-yel dari kabupaten/kota masing-masing.
Bukan Sekadar Seremonial
Ketua Kwarda Malut Muhammad Abusama menegaskan, keikutsertaan Malut dalam Jamnas XII harus dimanfaatkan sebagai ruang pembelajaran sekaligus panggung untuk memperkenalkan daerah.
Menurutnya, Jamnas dirancang untuk memperkuat nilai kebangsaan, patriotisme, kemandirian, spiritualitas, toleransi, persatuan, keberagaman dan demokrasi.
“Untuk Malut terpetakan di beberapa kavling. Namun, mereka juga diberikan penguatan melalui materi kepramukaan maupun pengetahuan mengenai kedaerahan,” ujar Abusama.
Ia menilai pengalaman berada di tengah ribuan Pramuka dari berbagai daerah akan menjadi modal penting bagi peserta Malut. Mereka tidak hanya dituntut mampu mengikuti kegiatan, tetapi juga menyerap pengalaman, membangun persahabatan dan memperluas perspektif.
Abusama berharap para peserta tidak pulang dengan tangan kosong secara pengalaman.
Mereka diharapkan membawa pulang keterampilan, wawasan, jejaring dan semangat baru untuk diterapkan setelah kembali ke Maluku Utara.
“Kami berharap anak-anak Malut dapat membawa pulang pengalaman, keterampilan dan semangat untuk menjadi generasi yang mandiri serta mampu berkontribusi bagi daerah,” katanya.
Pesan itu menjadi semakin relevan karena kehadiran Malut di Jamnas XII bukan hanya tentang bagaimana daerah tampil di hadapan publik nasional, tetapi juga bagaimana generasi mudanya dipersiapkan untuk kembali dan mengambil peran di daerah.
“Pramuka harus menjadi generasi yang siap belajar, berkarya dan mandiri. Dari Jamnas ini, kami ingin anak-anak Malut pulang dengan pengalaman baru dan semangat untuk membangun daerah,” tegas Abusama.
Dengan membawa seni, sejarah, kuliner, pariwisata dan semangat generasi mudanya, Maluku Utara sedang berupaya memastikan bahwa kehadirannya di Cibubur tidak sekadar terlihat, tetapi juga dikenang. Jamnas XII menjadi panggung nasional, dan kontingen Malut membawa satu pesan utama: potensi Maluku Utara layak dikenal lebih luas.
