Jakarta, MI— Pemerintah memastikan kebutuhan pangan warga terdampak gempa bumi Nusa Tenggara Timur (NTT) masih aman. Di tengah tawaran bantuan dari sejumlah negara, pemerintah memilih mengandalkan kemampuan dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan korban bencana.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan atau Zulhas menegaskan stok pangan nasional cukup untuk memasok wilayah terdampak gempa. Pemerintah juga mempercepat distribusi melalui lembaga terkait.
"Kita aman, nggak usah khawatir, beras banyak, telur banyak, ayam banyak, ikan banyak, gula banyak. Banyak. Makanan kita cukup, lebih dari cukup," kata Zulhas, dikutip Senin (24/8/2026).
Zulhas mengatakan Bulog dan Badan Pangan Nasional (Bapanas) telah bergerak memastikan bantuan pangan segera tiba di daerah terdampak.
Pemerintah memperkirakan distribusi dapat lebih merata dalam waktu satu hingga dua hari, meski tantangan geografis masih menjadi kendala di sejumlah wilayah.
"Kita jamin soal pangan aman ya di NTT. Bulog, Bapanas bergerak cepat, soal waktu kapal saja, 1-2 hari semua akan rata insya Allah akan dapat," ujarnya.
Menurut Zulhas, persoalan utama bukan ketersediaan pangan, melainkan akses menuju lokasi-lokasi yang sulit dijangkau. Sejumlah wilayah dengan kondisi geografis tertentu membutuhkan waktu lebih lama untuk menerima bantuan.
"Kecuali memang yang tidak memungkinkan daerah itu dikunjungi. Ya kalau misalnya satu pulau, yang nggak mungkin kita bisa datang, nah itu ya. Tapi semua yang bisa dijangkau satu dua hari ini akan selesai," kata Zulhas.
Sikap pemerintah tersebut muncul setelah sejumlah negara menawarkan bantuan untuk penanganan gempa NTT. Hingga kini, pemerintah menilai kapasitas nasional masih mampu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat sehingga bantuan asing belum menjadi pilihan.
Di sisi lain, skala bencana yang dihadapi NTT cukup besar. Berdasarkan data BNPB per Minggu (23/8/2026), gempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026 telah menyebabkan 91 orang meninggal dunia.
Sebanyak 1.286 orang mengalami luka-luka, sementara jumlah warga yang harus mengungsi mencapai 161.084 jiwa.
Besarnya jumlah pengungsi membuat kecepatan distribusi menjadi faktor krusial. Pemerintah dituntut memastikan stok pangan yang disebut melimpah benar-benar sampai ke tangan warga, terutama mereka yang berada di wilayah terpencil dan sulit dijangkau.**
