BREAKINGNEWS

Festival Jatiluwih 2026 Jadi Magnet Wisata Dunia, UMKM Kebanjiran Rezeki

Festival Jatiluwih 2026 Jadi Magnet Wisata Dunia, UMKM Kebanjiran Rezeki
Festival Jatiluwih 2026

Tabanan, MI– Festival Jatiluwih VII Tahun 2026 kembali membuktikan diri sebagai motor penggerak pariwisata dan ekonomi rakyat Bali. Event tahunan yang digelar di kawasan Daerah Tujuan Wisata (DTW) Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, tidak hanya menarik ribuan pengunjung, tetapi juga mendongkrak okupansi penginapan hingga penuh dan menggerakkan roda usaha masyarakat lokal.

Pemerintah Kabupaten Tabanan menilai Festival Jatiluwih telah berkembang menjadi ajang promosi pariwisata bertaraf internasional yang efektif memperkenalkan keindahan alam, budaya, serta kearifan lokal Bali kepada wisatawan domestik maupun mancanegara.

Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya mengatakan keberlangsungan festival yang digelar secara konsisten setiap tahun menjadi bukti keseriusan Jatiluwih dalam memperkuat posisinya sebagai salah satu destinasi unggulan dunia.

"Pariwisata harus terus diperkenalkan, baik dari sisi kearifan lokal maupun berbagai potensi yang dimiliki. Dengan demikian semakin banyak orang mengetahui dan penasaran untuk datang ke Jatiluwih," kata Sanjaya saat membuka Festival Jatiluwih VII, Sabtu (20/6/2026).

Menurutnya, semakin tingginya kunjungan wisatawan akan memberikan efek berganda yang dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar. Tidak hanya sektor pariwisata yang memperoleh manfaat, tetapi juga pelaku usaha kecil, petani, pedagang, hingga penyedia jasa lainnya.

"Ketika banyak orang datang ke Jatiluwih, semua akan terdampak. Event seperti ini menjadi salah satu penggerak ekonomi dan harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat," tegasnya.

Festival tahun ini tampil lebih besar dengan melibatkan lebih banyak pelaku UMKM lokal. Pengelola DTW Jatiluwih memberikan ruang yang lebih luas kepada masyarakat untuk mempromosikan dan menjual produk-produk unggulan mereka kepada para pengunjung.

Selain itu, Festival Jatiluwih VII juga berkolaborasi dengan Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Bali melalui penyelenggaraan Bali Tourism Run 2026. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memperluas promosi Jatiluwih ke pasar nasional maupun internasional.

Manajer Operasional DTW Jatiluwih, I Ketut Purna, menegaskan promosi yang dilakukan secara berkelanjutan menjadi strategi penting untuk meningkatkan daya saing destinasi wisata tersebut.

"Ini menjadi momentum bagi Jatiluwih untuk mempromosikan pariwisata yang ada di sini secara lebih luas," ujarnya.

Saat ini komposisi kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara masih berada di angka sekitar 50:50. Namun pengelola menargetkan peningkatan jumlah wisatawan asing hingga mencapai 70 persen dalam beberapa tahun ke depan guna memperkuat citra Jatiluwih sebagai destinasi wisata kelas dunia.

Dampak ekonomi festival pun langsung terasa. Menjelang dan selama penyelenggaraan acara, tingkat hunian hotel, penginapan, dan homestay di kawasan Jatiluwih melonjak tajam.

"Sebelum festival, tingkat okupansi hanya sekitar 50 persen. Namun saat festival, hotel, penginapan, dan homestay di Jatiluwih penuh," ungkap Ketut Purna.

Lonjakan tingkat hunian tersebut otomatis membawa berkah bagi pelaku UMKM, pedagang kuliner, penyedia transportasi, hingga petani lokal yang menjadi pemasok kebutuhan berbagai usaha wisata.

Keberhasilan Festival Jatiluwih VII menunjukkan bahwa pariwisata tidak sekadar soal kunjungan wisatawan, tetapi juga menjadi instrumen nyata dalam menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan memperkuat ekonomi daerah. Dengan dukungan pemerintah serta keterlibatan masyarakat, Jatiluwih terus mengukuhkan diri sebagai ikon wisata Bali yang mampu bersaing di panggung internasional.**

Topik:

Edison Efrizal

Penulis

Video Terbaru

Festival Jatiluwih 2026 Jadi Magnet Wisata Dunia, UMKM Keban | Monitor Indonesia