Lebak, MI– Ancaman kekeringan mulai menghantui sektor pertanian di Kabupaten Lebak, Banten. Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Lebak mencatat sedikitnya 372 hektare sawah di tujuh kecamatan terdampak kekeringan akibat musim kemarau.
Kondisi itu mendorong pemerintah daerah meminta Kementerian Pertanian (Kementan) segera menambah bantuan pompa air serta membangun embung guna mencegah meluasnya risiko gagal panen.
Kepala Bidang Produksi Pertanian Distan Kabupaten Lebak, Dodi Hermawan, mengatakan kemampuan intervensi pemerintah saat ini masih jauh dari cukup dibandingkan luas lahan yang terdampak.
"Dari sisi cakupan, luas intervensi masih terbatas dibanding luas yang terdampak. Ini menunjukkan perlunya penambahan armada pompa dan embung, serta percepatan bantuan kepada petani di lapangan," ujar Dodi.
Berdasarkan pendataan Distan periode 1–15 Juli 2026, Kecamatan Kalanganyar menjadi wilayah dengan dampak terparah mencapai 227 hektare, disusul Cipanas dan Rangkasbitung masing-masing 49 hektare, Cibadak 21 hektare, Muncang 17 hektare, Maja 5 hektare, dan Warunggunung 4 hektare.
Distan menyebut penurunan debit air mulai terjadi di saluran irigasi tersier maupun sumber mata air, terutama pada kawasan sawah tadah hujan yang sangat bergantung pada curah hujan.
"Sudah mulai terdampak. Penurunan debit air terlihat dari mulai berkurangnya pasokan air di saluran tersier dan sumber mata air di sejumlah kecamatan. Namun, kondisi ini belum merata di seluruh wilayah," kata Dodi.
Data Distan menunjukkan Kabupaten Lebak memiliki 52.033,1 hektare lahan sawah, dengan sekitar 21.088,2 hektare atau 40,5 persen di antaranya merupakan sawah tadah hujan. Tingginya ketergantungan terhadap hujan membuat hampir separuh lahan pertanian di daerah itu sangat rentan jika musim kemarau berlangsung lebih lama.
"Dengan demikian, sawah tadah hujan mencakup sekitar 40,5 persen dari total luas sawah di Kabupaten Lebak. Artinya, hampir separuh lahan sawah di Lebak sangat rentan terhadap kemarau panjang," ujarnya.
Meski demikian, hingga pertengahan Juli 2026 pemerintah daerah memastikan belum ada laporan gagal panen atau puso. Sebagian besar sawah yang terdampak masih berada pada kategori kerusakan ringan hingga sedang sehingga masih berpeluang diselamatkan.
"Dari data yang ada, belum ada laporan puso. Sebagian besar sawah yang terdampak masih dalam kategori rusak ringan dan sedang, sehingga masih ada peluang untuk diselamatkan," jelas Dodi.
Sebagai langkah darurat, Distan telah menyalurkan 74 unit pompa air ke 28 kecamatan, melakukan pompanisasi, pendampingan teknis kepada petani, serta pemantauan rutin di lapangan. Namun, bantuan tersebut dinilai belum mampu menjangkau seluruh area terdampak.
"Upaya penyelamatan sudah dilakukan melalui pompanisasi, tetapi dari total 372 hektare yang terdampak, baru sebagian kecil yang mendapat intervensi pompa. Ini menjadi tantangan besar mengingat luas dampaknya cukup signifikan," katanya.
Distan pun meminta Kementan segera mempercepat penambahan pompa air, pembangunan embung, dan distribusi bantuan agar dampak kekeringan tidak meluas ketika puncak musim kemarau tiba. Petani juga diimbau segera melapor kepada penyuluh pertanian jika menemukan gejala kekeringan, menggunakan air secara hemat, memanfaatkan pompa secara bergiliran, serta menyesuaikan pola tanam dengan ketersediaan air.
"Kepada para petani, segera melapor ke petugas PPL setempat jika melihat gejala kekeringan. Optimalkan penggunaan air secara hemat dan bergilir, manfaatkan pompa air secara kolektif jika tersedia, gunakan varietas tahan kering, dan jangan memaksakan tanam jika debit air sangat minim," tutup Dodi.**
