Jambi, MI – Pemerintah Provinsi Jambi menetapkan status siaga menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seiring memasuki puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga Oktober 2026. Hingga akhir Juni, luas lahan yang terbakar telah mencapai 137,72 hektare, sementara ribuan titik panas terdeteksi di berbagai wilayah.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jambi, Bachyuni Deliansyah, mengatakan kondisi cuaca yang semakin kering diperparah oleh fenomena El Nino sehingga meningkatkan potensi karhutla dalam beberapa bulan ke depan.
"Musim kemarau diperkirakan berlangsung mulai Juli hingga akhir September, bahkan sampai Oktober 2026. Karena itu seluruh pihak harus meningkatkan kewaspadaan," ujarnya, Jumat (3/7/2026).
Sebagai langkah antisipasi, Pemprov Jambi membentuk 81 posko siaga karhutla yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota rawan kebakaran. Posko tersebut melibatkan personel BPBD, TNI, Polri, BNPB, Manggala Agni, hingga relawan untuk mempercepat deteksi dini dan penanganan apabila muncul titik api.
Setiap posko diisi sekitar 10 personel dan akan beroperasi hingga 31 Oktober 2026. Selain siaga pemadaman, petugas juga bertugas memberikan edukasi kepada masyarakat serta mempercepat pelaporan kejadian kebakaran ke Posko Induk di Korem 042/Garuda Putih maupun Posko Udara di Bandara Sultan Thaha Jambi.
BPBD juga memperkuat patroli terpadu bersama TNI, Polri, pemerintah daerah, dan Manggala Agni. Pemantauan titik panas dilakukan secara berkala menggunakan citra satelit, disertai sosialisasi agar masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Data BPBD mencatat sejak 1 Januari hingga 29 Juni 2026 terdapat 1.463 titik panas (hotspot) di Provinsi Jambi. Kabupaten Tanjung Jabung Barat menjadi wilayah dengan jumlah hotspot tertinggi mencapai 451 titik, disusul Muaro Jambi 339 titik, Sarolangun 199 titik, Merangin 138 titik, Tanjung Jabung Timur 99 titik, Tebo 84 titik, Batang Hari 71 titik, Bungo 53 titik, Kerinci 21 titik, Kota Jambi tujuh titik, dan Sungai Penuh satu titik.
Sementara itu, kebakaran lahan paling luas terjadi di Kabupaten Sarolangun dengan total 44,90 hektare, diikuti Batang Hari seluas 36,42 hektare, Tanjung Jabung Barat 33,40 hektare, Tanjung Jabung Timur 18,80 hektare, Tebo 2,50 hektare, serta Muaro Jambi 1,70 hektare.
BPBD mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran saat membuka lahan. Di tengah kemarau panjang dan pengaruh El Nino, api berpotensi cepat meluas, memicu kabut asap, serta mengganggu aktivitas dan kesehatan masyarakat.
Pemerintah berharap langkah mitigasi yang telah disiapkan sejak dini mampu menekan pertambahan titik api dan mencegah meluasnya karhutla selama puncak musim kemarau 2026.**
