Jambi, MI – Kabut asap mulai menyelimuti sejumlah kawasan di Kota Jambi seiring meningkatnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah provinsi tersebut.
Meski kualitas udara masih berada pada kategori baik, masyarakat mulai merasakan dampak asap dan memilih menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan.
Fenomena kabut asap mulai terlihat pada pagi dan sore hari dalam beberapa hari terakhir, bertepatan dengan tidak turunnya hujan akibat musim kemarau. Secara visual, lapisan asap mulai tampak menyelimuti wilayah perkotaan meski belum dalam kondisi pekat.
Berdasarkan data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) milik Dinas Lingkungan Hidup Kota Jambi, kualitas udara masih berada di zona hijau. Parameter pencemar seperti PM10, PM2.5, SO₂, CO, dan NO₂ masih berada dalam batas aman. Namun, kemunculan kabut asap menjadi sinyal awal meningkatnya dampak kebakaran hutan dan lahan.
Seorang warga Kota Jambi, Rani, mengaku mulai melihat kabut asap sejak beberapa hari terakhir setelah hujan berhenti turun.
"Sudah beberapa hari ini memang tidak hujan. Pagi dan sore kabut asap mulai kelihatan, memang belum tebal, tapi sudah cukup jelas terlihat," ujarnya.
Ia juga mengaku mulai mencium aroma asap kebakaran dan memilih mengenakan masker saat keluar rumah sebagai langkah antisipasi.
"Kalau keluar rumah sekarang sudah pakai masker. Bau asap sudah mulai terasa walaupun belum terlalu menyengat. Mudah-mudahan jangan sampai seperti beberapa tahun lalu," katanya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jambi, Bachyuni Deliansyah, mengungkapkan potensi karhutla masih tinggi karena Jambi kini memasuki puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga akhir September, bahkan dapat berlanjut sampai Oktober.
Hingga akhir Juli 2026, luas lahan yang terbakar di Provinsi Jambi telah mencapai sekitar 222 hektare dan tersebar di sejumlah kabupaten.
"Hingga saat ini luas lahan yang terbakar mencapai sekitar 222 hektare. Akhir Juli ini Jambi memasuki fase puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga akhir September, bahkan bisa sampai Oktober," kata Bachyuni.
BPBD mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar serta tidak membuang puntung rokok sembarangan di area rawan kebakaran. Menurutnya, kondisi vegetasi yang sangat kering membuat api kecil sekalipun dapat dengan cepat berkembang menjadi kebakaran besar.
"Penanganan karhutla tidak bisa hanya mengandalkan petugas. Kami membutuhkan peran aktif masyarakat untuk mencegah munculnya titik api. Pencegahan adalah langkah paling efektif untuk melindungi hutan, lahan, dan masyarakat dari bencana karhutla," tegas Bachyuni.**
