Pangandaran, MI– Bencana lingkungan akibat tumpahan ribuan ton batubara di perairan Pantai Sukaresik, Kabupaten Pangandaran, kian mengkhawatirkan. Memasuki hari kedua pasca-insiden kapal tongkang, sebaran material batubara terus meluas mengikuti arus laut dan mulai mendekati sejumlah kawasan wisata unggulan Pangandaran.
Air laut yang sebelumnya jernih dan berwarna biru kini berubah hitam pekat di sejumlah titik pesisir. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran serius terhadap dampak ekologis maupun ancaman terhadap sektor pariwisata yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat setempat.
Berdasarkan pemantauan di lapangan, partikel batubara telah bergerak hingga mendekati kawasan Pantai Batuhiu dan pesisir Cikembulan Pass. Bahkan, informasi yang beredar menyebutkan cemaran mulai terdeteksi di wilayah Pantai Batukaras, meski tingkat pencemarannya belum separah yang terjadi di Pantai Sukaresik.
Insiden ini bermula dari kecelakaan kapal tongkang pengangkut batubara yang mengalami masalah di perairan Pangandaran. Akibatnya, sekitar 8.000 ton batubara dilaporkan tumpah ke laut dan menyebar ke wilayah pesisir.
Pantauan di lokasi menunjukkan kondisi kapal tongkang kini terbalik dan sebagian besar badan kapal hampir tenggelam diterjang gelombang. Di sekitar lokasi kejadian, permukaan laut tampak menghitam menyerupai air limbah, kontras dengan kondisi normal kawasan yang selama ini dikenal memiliki panorama laut yang bersih dan indah.
Di tengah situasi tersebut, sejumlah warga sempat mendatangi lokasi untuk mengumpulkan batubara yang terdampar di pesisir menggunakan karung dan kantong plastik. Namun, aparat yang berada di lokasi segera meminta material tersebut dikembalikan untuk kepentingan pengamanan dan penanganan kejadian.
Kasat Polairud Polres Pangandaran, AKP Anang Tri, mengakui bahwa pencemaran terus bergerak mengikuti arus laut dan berpotensi menjangkau kawasan wisata utama Pangandaran.
"Khawatirnya memang meluas ke daerah wisata," ujar Anang, Jumat (19/6/2026).
Menurutnya, luas wilayah terdampak masih berpotensi bertambah dalam beberapa hari ke depan, terutama karena kondisi gelombang dan arus laut yang terus berubah. Aparat bersama tim gabungan kini fokus melakukan pengamanan lokasi agar bangkai kapal maupun material batubara tidak bergeser semakin dekat ke kawasan wisata.
"Dari pihak kepolisian telah mengamankan TKP agar tidak bergeser lebih jauh, terutama dari destinasi wisata utama," katanya.
Hingga saat ini, tim gabungan yang terdiri dari unsur kepolisian, pemerintah daerah, dan instansi terkait masih melakukan pemetaan untuk mengetahui luas pasti area yang telah tercemar.
"Persisnya untuk luasan akan kami cek bersama tim gabungan," tambah Anang.
Selain ancaman terhadap ekosistem laut, tumpahan batubara juga menimbulkan risiko kesehatan bagi masyarakat. Debu dan partikel batubara yang terbawa angin maupun ombak dapat berdampak buruk jika terhirup atau terpapar secara terus-menerus.
Karena itu, aparat mengimbau warga untuk tidak mendekati lokasi kejadian dan tidak mengambil batubara yang terdampar di pantai sampai proses penanganan selesai dilakukan.**

