Surabaya, MI – Kasus dugaan pelecehan seksual terhadap atlet menembak perempuan di bawah umur yang menyeret mantan pengurus Perbakin Surabaya berinisial JL memasuki babak baru.
Proses penyidikan terus berjalan, sementara Perbakin Surabaya mengambil langkah tegas dengan menonaktifkan terduga pelaku serta membekukan seluruh aktivitas lembaga pelatihan privat yang dikelolanya.
Kasus ini menjadi sorotan publik setelah keluarga korban DS (15) melaporkan dugaan pelecehan yang disebut terjadi dalam proses pembinaan atlet. Peristiwa tersebut dikabarkan meninggalkan trauma mendalam bagi korban hingga enggan kembali mengikuti olahraga menembak yang selama ini ditekuninya.
Kasatres PPA-PPO Polrestabes Surabaya, Kompol Melatisari, memastikan penyidikan telah berlangsung dan sejumlah pihak telah dimintai keterangan.
"Pelapor, korban, dan terlapor sudah diperiksa. Saat ini proses penyidikan masih berjalan," ujarnya.
Meski belum merinci perkembangan terbaru, kepolisian menegaskan kasus tersebut terus didalami untuk mengungkap seluruh fakta yang terjadi.
Di tengah proses hukum, Perbakin Surabaya bergerak cepat dengan mencopot JL dari jabatannya sebagai pengurus organisasi. Keputusan itu diambil sebagai bentuk komitmen organisasi dalam menjaga integritas pembinaan atlet sekaligus memberikan perlindungan kepada para atlet muda.
Ketua Harian Perbakin Surabaya, Hadi Susilo, menegaskan bahwa sejak 12 Juni 2026, JL resmi dinonaktifkan dan tidak lagi memiliki hubungan kepengurusan dengan Perbakin Surabaya.
Menurut Hadi, JL selama ini menjabat sebagai Kepala Bidang Tembak Reaksi, namun bukan pelatih resmi yang memiliki sertifikasi dari Perbakin maupun KONI. Ia disebut menjalankan kegiatan pelatihan secara privat melalui lembaga bernama LASAPA yang menyewa fasilitas latihan di lingkungan Perbakin Jawa Timur.
"JL bukan pelatih resmi Perbakin Surabaya. Ia menjalankan pelatihan privat secara mandiri dan tidak berada di bawah naungan resmi organisasi," tegas Hadi.
Sebagai tindak lanjut, Perbakin Surabaya juga membekukan seluruh kegiatan LASAPA untuk sementara waktu. Organisasi tersebut sekaligus mengimbau para orang tua agar lebih aktif mendampingi anak-anak mereka selama mengikuti latihan maupun kompetisi.
Selain itu, Perbakin membuka ruang bagi atlet lain yang merasa pernah mengalami perlakuan serupa untuk melapor. Langkah ini dilakukan guna memastikan tidak ada korban lain yang memilih diam dan agar proses penanganan kasus dapat berjalan secara menyeluruh.**

