Kotawaringin, MI — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, terus meluas. Hingga 16 Agustus 2026, BPBD Kotim mencatat 2.707 hotspot dan 302 kejadian karhutla dengan total lahan terbakar mencapai 496,8439 hektare.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam mengatakan titik panas tersebar di hampir seluruh wilayah. Kota Besi menjadi daerah dengan hotspot terbanyak, yakni 512 titik.
“Disusul Teluk Sampit sebanyak 451 titik, Seranau 296 titik, Mentaya Hilir Utara 289 titik, Mentawa Baru Ketapang 262 titik, dan Baamang 230 titik,” kata Multazam, Senin (17/8/2026).
Namun, jumlah hotspot tidak otomatis mencerminkan luas lahan yang terbakar. Pulau Hanaut hanya mencatat empat kejadian karhutla, tetapi area yang terbakar mencapai 82,65 hektare. Kondisi serupa terjadi di Parenggean dengan lima kejadian dan luas lahan terdampak 58,5 hektare.
Data tersebut menunjukkan verifikasi lapangan tetap menjadi kunci untuk mengukur dampak sebenarnya. Titik panas dari pemantauan udara harus ditindaklanjuti dengan pengecekan langsung untuk memastikan luas dan tingkat penyebaran api.
Dari lima wilayah yang menjadi prioritas penanganan, Mentawa Baru Ketapang mencatat luas lahan terbakar terbesar, yakni 136,3595 hektare dalam 111 kejadian.
Baamang berada di urutan berikutnya dengan 107,61135 hektare dari 131 kejadian. Sementara Kota Besi mencatat 33,615 hektare dari 14 kejadian, Teluk Sampit 13,3 hektare, dan Seranau 3,5 hektare.
“Penanganan terus menjadi perhatian, khususnya pada wilayah dengan kebakaran berskala besar, sehingga perkembangan di lapangan terus dipantau,” ujar Multazam.
BPBD Kotim kini memprioritaskan pemantauan di Teluk Sampit, Kota Besi, Seranau, Baamang, dan Mentawa Baru Ketapang. Petugas juga berupaya mencegah api meluas ke kawasan lain.
Ancaman diperbesar oleh kondisi cuaca yang masih kering. Berdasarkan prakiraan Stasiun Meteorologi H. Asan Kotim, potensi pertumbuhan awan hujan pada 16-17 Agustus masih rendah atau tidak signifikan.
“Tantangan lainnya datang dari kondisi cuaca,” kata Multazam.**
