Berau, MI– Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, kian mengkhawatirkan. Hingga Rabu, 19 Agustus 2026, sedikitnya 118 hektare hutan dan lahan telah terbakar, dengan lebih dari 200 titik api terdeteksi melalui pemantauan satelit.
Luas area terbakar tersebut melonjak hingga dua kali lipat hanya dalam waktu sepekan. Api kini tersebar di lima kecamatan, yakni Sambaliung, Tanjung Redeb, Segah, Kelay, dan Tanjung Batu.
Kondisi ini menunjukkan karhutla di Berau bukan lagi sekadar kebakaran sporadis. Munculnya titik api baru secara terus-menerus membuat upaya pemadaman tertinggal dibanding laju penyebaran api.
Dandim 0902/Berau sekaligus Komandan Satgas Karhutla Berau, Letkol Inf Faisal Idris, mengatakan ratusan titik api masih terpantau. Namun, kemampuan tim di lapangan baru mampu menangani sebagian di antaranya.
“Kalau kita lihat dari satelit itu kurang lebih ada 200 lebih titik api, tetapi nyatanya di lapangan baru beberapa puluh titik yang sudah bisa kita padamkan,” kata Faisal di Makodim Berau, Rabu malam.
Kesenjangan antara jumlah titik api yang terdeteksi dan titik yang berhasil dipadamkan menjadi persoalan serius. Jika titik-titik baru terus bermunculan, luas lahan terbakar berpotensi kembali meningkat dan memperbesar dampak lingkungan maupun kesehatan masyarakat.
Satgas Karhutla Berau pun mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama membakar sampah dan membuka lahan dengan cara dibakar.
Pemerintah dan aparat kini menghadapi pekerjaan besar. Pemadaman tidak cukup hanya mengejar api yang sudah terlihat, tetapi juga harus mampu mencegah munculnya titik api baru.**
