Ternate, MI - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya N. Bakrie, mengajak investor dalam maupun luar negeri untuk menjadikan Maluku Utara sebagai salah satu tujuan investasi utama di Indonesia. Ajakan itu disampaikan setelah meninjau langsung kawasan industri Weda Bay bersama Gubernur Malut, Sherly Tjoanda, sebelum menghadiri pengukuhan Pengurus Kadin Maluku Utara periode 2026-2031 di Ternate, Sabtu (25/7/2026).
Menurut Anindya, Weda Bay telah menjadi bukti nyata keberhasilan investasi asing di Indonesia, khususnya investasi asal Tiongkok yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus memperkuat posisi Maluku Utara sebagai pusat hilirisasi nasional.
"Terutama tadi kami bersama Ibu Gubernur mengunjungi Weda Bay, salah satu investasi besar dari Tiongkok ke Indonesia. Kita melihat sendiri kawasannya juga besar dan baik," ujar Anindya.
Ia mengatakan, perkembangan kawasan industri tersebut tidak hanya bertumpu pada produksi baja nirkarat (stainless steel), tetapi juga telah berkembang ke industri baterai yang menjadi bagian penting dalam rantai industri kendaraan listrik dunia.
"Bukan saja dari sisi stainless steel, tetapi juga dari sisi pembuatan baterai. Menurut saya, ini sesuatu yang luar biasa."

Dalam kunjungan tersebut, Anindya mengaku juga berdiskusi dengan perwakilan investor asal Tiongkok. Dari pertemuan itu, ia memperoleh gambaran bahwa investasi besar yang telah masuk ke Weda Bay berpotensi menarik lebih banyak perusahaan asing untuk menanamkan modal di Maluku Utara.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa keberhasilan investasi tidak boleh hanya diukur dari besarnya nilai modal yang masuk. Yang jauh lebih penting, kata dia, adalah memastikan manfaat investasi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat dan pelaku usaha lokal.
"Yang paling penting adalah bagaimana ke depannya bisa melibatkan pengusaha-pengusaha lokal Maluku Utara."
Karena itu, Anindya berharap kepengurusan baru Kadin Maluku Utara mampu menjadi jembatan antara investor dengan dunia usaha daerah. Menurutnya, sinergi antara Ketua Umum Kadin Maluku Utara yang baru dengan Gubernur Sherly Tjoanda sebagai Ketua Dewan Penasehat Kadin Maluku Utara harus mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
"Ketua Umum Kadin Maluku Utara yang baru bekerja sama dengan Ibu Gubernur yang berkenan menjadi Ketua Dewan Penasehat Kadin Maluku Utara untuk memastikan bahwa pertumbuhan terus dicapai tetapi juga inklusif."
Anindya menegaskan dirinya akan mengajak para investor yang ditemuinya di berbagai kesempatan agar memberikan perhatian lebih serius kepada Maluku Utara. Menurutnya, daerah ini memiliki potensi yang sangat besar karena mencatatkan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia.
"Saya tentunya akan menghimbau seluruh investor yang kita temui baik dalam maupun luar negeri untuk melirik Maluku Utara secara serius. Karena Maluku Utara pertumbuhannya ini salah satu bahkan paling tinggi di Indonesia."
Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Maluku Utara pada kuartal pertama mencapai sekitar 19 persen, jauh di atas rata-rata nasional yang berada di kisaran 5,6 persen. Selain itu, nilai investasi yang masuk ke Maluku Utara pada tahun lalu juga telah mencapai sekitar Rp350 triliun.
"Kalau tidak salah di kuartal satu 19 persenan, sementara nasional itu 5,6 persen. Jumlah investasi tahun lalu itu ada Rp350 triliun."
Anindya bahkan menyebut hampir 18 persen investasi asal Tiongkok di Indonesia berada di Maluku Utara. Menurutnya, angka tersebut menunjukkan besarnya kepercayaan investor terhadap daerah yang kini menjadi pusat hilirisasi mineral nasional.
"Jadi, hampir 18 persen investasi China itu berada di Maluku Utara. Ini angka yang besar. Yang penting sekarang adalah bagaimana nilainya terus meningkat dan manfaatnya semakin inklusif."
Selain sektor pertambangan dan hilirisasi mineral kritis, Anindya juga melihat peluang besar pada sektor pariwisata. Ia menilai Ternate dan Tidore memiliki nilai sejarah yang kuat sebagai pusat perdagangan rempah-rempah dunia sehingga layak dikembangkan menjadi destinasi wisata unggulan.
"Kami juga melihat selain hilirisasi mineral kritis, sektor turisme juga menarik sekali, terutama Ternate dan Tidore yang sejak abad ke-8 menjadi pusat perdagangan dunia dengan rempah-rempahnya."
Tidak hanya itu, Anindya juga menyoroti peluang besar di sektor agribisnis. Ia mengaku menemukan fakta bahwa sebagian besar kebutuhan pangan di Maluku Utara masih dipasok dari luar daerah.
"Kami lihat di salah satu supermarket, 95 persen pasokan datang dari luar Maluku Utara."
Menurutnya, kondisi tersebut membuka peluang besar bagi pengusaha lokal untuk mengembangkan usaha peternakan, pertanian, dan hortikultura agar kebutuhan telur, ayam, daging, maupun sayur-mayur dapat dipenuhi dari produksi dalam daerah.
Di sisi lain, Anindya menilai pertumbuhan industri harus diikuti dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Ia berharap masyarakat Maluku Utara memperoleh manfaat langsung melalui peningkatan pendidikan, layanan kesehatan, serta kualitas hidup.
"Sumber daya manusianya mempunyai keinginan untuk bisa naik kelas, baik pendidikan, kesehatan maupun gaya hidup."
Ia menegaskan Kadin Indonesia memiliki dua misi utama, yakni membangun semangat gotong royong di antara pelaku usaha serta mendorong seluruh pengusaha Indonesia naik kelas.
"Kadin mempunyai suatu niat untuk dua hal, untuk gotong royong dan naik kelas."
Menurutnya, perusahaan besar harus mampu menjadi pemain internasional, pelaku usaha menengah tumbuh menjadi perusahaan besar, sementara usaha kecil didorong agar berkembang menjadi lebih kuat.
"Di sinilah Kadin Maluku Utara mempunyai tugas untuk memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi ini dinikmati juga oleh pengusaha Maluku Utara."
Anindya optimistis apabila investasi terus bertambah dan dunia usaha lokal dilibatkan secara aktif, maka penyerapan tenaga kerja akan meningkat, kualitas sumber daya manusia semakin baik, dan Maluku Utara akan menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan.
"Tenaga kerja harus semakin terserap, lebih maju dan menjadi acuan bagi perkembangan dunia usaha di Maluku Utara ke depan."
